Misi kemanusiaan yang diusung maskapai asal Iran, Mahan Airlines, terpaksa mengalihkan rute pendaratannya ke Bandara Al-Hudaydah di Yaman bagian barat. Langkah darurat ini diambil setelah jet tempur koalisi Arab Saudi membombardir landasan pacu Bandara Internasional Sana'a pada Senin (13/7/2026) demi mencegah pesawat tersebut mendarat di ibu kota.

Penerbangan sipil ini membawa muatan krusial berupa obat-obatan dan pasokan medis untuk warga Yaman yang tengah didera krisis. Selain mengantarkan bantuan kemanusiaan, pesawat tersebut sedianya dijadwalkan untuk menjemput delegasi Iran yang menghadiri upacara penghormatan terakhir mendiang Pemimpin Syahid, Ayatullah Imam Ali Khamenei. Penerbangan ini juga menjadi bagian dari upaya pemulihan rute reguler Teheran-Sana'a.

Kementerian Perhubungan Yaman mengecam keras aksi pengeboman tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan wilayah udara mereka. Otoritas setempat menilai serangan udara ini merupakan taktik sistematis untuk memperpanjang blokade udara dan laut yang telah menyengsarakan warga sipil Yaman selama lebih dari satu dekade.

Kendati dipaksa mengubah koordinat pendaratan ke Al-Hudaydah, perwakilan pemerintah Yaman memastikan bahwa seluruh paket bantuan medis darurat tetap berhasil diturunkan dan disalurkan. Namun, pemerintah menegaskan bahwa Bandara Al-Hudaydah tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran vital Bandara Sana'a sebagai gerbang utama mobilitas warga dan logistik nasional.

Yaman sangat bergantung pada jalur udara untuk mendatangkan lebih dari 90 persen kebutuhan pokok dan obat-obatan impor. Terganggunya operasional Bandara Sana'a diprediksi akan melonjakkan biaya logistik serta mempersulit evakuasi pasien kritis. Atas situasi ini, pemerintah di Sana'a mendesak PBB dan komunitas internasional untuk bersikap tegas terhadap blokade sepihak ini, sembari memperingatkan Riyadh bahwa tindakan agresif tersebut akan membawa konsekuensi serius.