Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Musi Palembang berkomitmen melakukan transformasi pelayanan air bersih guna mengimbangi pesatnya pertumbuhan kawasan permukiman dan jumlah pelanggan di Kota Palembang. Langkah strategis ini tidak hanya berfokus pada pasokan air, tetapi juga mencakup integrasi teknologi mutakhir untuk mempercepat penanganan gangguan serta penguatan infrastruktur distribusi.
Direktur Utama Perumda Tirta Musi Palembang, Teddy Andrian, mengungkapkan bahwa jumlah pelanggan perusahaan diproyeksikan menembus angka 370 ribu pada Juli 2026. Dengan pertumbuhan yang masif ini, tantangan utama yang dihadapi bukan pada ketersediaan air baku Sungai Musi yang relatif melimpah, melainkan pada kapasitas jaringan pipa yang perlu terus diperluas dan diperbesar skalanya.
Peningkatan kapasitas pipa, pompa, dan jaringan distribusi saat ini diprioritaskan pada wilayah dengan pertumbuhan properti yang sangat cepat, seperti Gandus, Kalidoni, Sako, Talang Jambe, dan kawasan Mata Merah. Teddy juga mengimbau masyarakat untuk mendukung proses galian pipa di area permukiman karena proyek tersebut esensial untuk memastikan aliran air menjangkau wilayah ujung jaringan.
Dari sisi pelayanan pelanggan, Tirta Musi berkomitmen merespons keluhan skala rumah tangga dalam waktu maksimal dua hari. Terkait fluktuasi tagihan air yang kerap dikeluhkan, manajemen menjelaskan bahwa hal tersebut umumnya dipicu oleh kebocoran pipa internal, kerusakan meteran, hingga akumulasi pembayaran. Untuk mengoptimalkan layanan aduan, perusahaan juga bekerja sama dengan pihak ketiga guna menyediakan tenaga customer service yang kompeten.
Menatap masa depan, BUMD ini sedang menjajaki implementasi teknologi deteksi kebocoran tanpa galian menggunakan sistem sonar, inframerah, dan robotika yang diadopsi dari Jepang dan Korea. Selain itu, transisi ke energi hijau berupa panel surya sedang dirancang sebagai solusi cadangan daya mandiri agar operasional pompa distribusi tidak terganggu saat terjadi pemadaman listrik konvensional.