Bali tidak hanya dituntut bersolek secara fisik untuk menarik wisatawan dunia, tetapi juga harus memperkokoh benteng keamanan digitalnya. Hal ini ditegaskan oleh Anggota DPR RI, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, saat melakukan kunjungan kerja bersama delegasi Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI ke BIM University, Bali, pada Rabu (26/8/2026). Kunjungan ini secara khusus membedah pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, serta mitigasi ancaman siber di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Dalam kesempatan tersebut, legislator dari Senayan ini mengapresiasi terobosan BIM University yang aktif memelopori adaptasi AI, salah satunya lewat inisiatif Bali Future Lab. Program tersebut dinilai strategis dalam membantu pelaku pariwisata dan UMKM lokal bertransformasi ke ekosistem digital demi meningkatkan daya saing global.
Kendati demikian, Habib Aboe mengingatkan bahwa akselerasi teknologi bagai pisau bermata dua. Di balik kemudahan dan peluang bisnis yang ditawarkan, sektor pariwisata Bali kini rentan terhadap berbagai modus kejahatan siber baru. Ancaman seperti penipuan digital (cyber scams), kebocoran data wisatawan, hingga penyebaran konten manipulatif berbasis deepfake berpotensi merusak reputasi Bali sebagai destinasi internasional.
Guna mengantisipasi ancaman tersebut, ia mendorong institusi pendidikan tinggi untuk tidak sekadar mencetak lulusan yang mahir teknologi, melainkan juga menanamkan kesadaran etika dan hukum. Regulasi yang sering kali tertinggal dari kecepatan inovasi AI menuntut kalangan akademisi untuk ikut merumuskan batasan moral dan perlindungan privasi data pribadi.
DPR RI juga membuka pintu bagi civitas akademika BIM University untuk menyalurkan hasil riset mereka terkait tata kelola siber dan bisnis digital ke Senayan. Data empiris dari kampus diharapkan dapat menjadi landasan kuat bagi parlemen dalam menyusun rancangan undang-undang dan kebijakan perlindungan ruang siber nasional yang lebih kokoh.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, parlemen, akademisi, dan pelaku industri, Bali diyakini memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor ketahanan digital. Hal ini sekaligus memosisikan Pulau Dewata sebagai pusat diplomasi teknologi dan etika AI di tingkat regional ASEAN.