Penguatan sistem pelayanan kesehatan dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, meninjau langsung kesiapan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarif Mohammad Alkadrie (SSMA) serta beberapa pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) untuk memastikan penanganan medis berjalan optimal.

Kunjungan lapangan ini dipicu oleh indeks kualitas udara di Kota Pontianak yang sempat menyentuh kategori berbahaya selama beberapa hari terakhir. Pemerintah daerah berupaya mengantisipasi lonjakan pasien dengan memastikan ketersediaan logistik medis, terutama tabung oksigen gratis bagi warga yang mengalami sesak napas akut di seluruh faskes dan posko darurat seperti Posko Segar PMI Pontianak.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Pontianak, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mengalami kenaikan harian sekitar 10 persen sejak kabut asap menebal pada Agustus. Angka kunjungan harian penderita ISPA di puskesmas melonjak dari rata-rata normal 100 hingga 200 pasien menjadi lebih dari 300 pasien per hari. Selain ISPA, ancaman penyakit diare juga diwaspadai akibat menipisnya pasokan air bersih selama musim kemarau.

Di sektor pendidikan, Pemkot Pontianak memperpanjang kebijakan pembelajaran daring bagi siswa guna meminimalisasi paparan asap pada anak-anak. Patroli lapangan oleh BPBD Pontianak juga diintensifkan guna mencegah aktivitas pembakaran lahan baru serta mengedukasi warga agar tidak membakar sampah secara liar di lahan gambut yang rentan.

Sebagai bentuk ikhtiar spiritual di tengah kemarau panjang selama dua bulan terakhir, ribuan masyarakat bersama jajaran Forkopimda dan tokoh lintas ormas Islam menggelar salat Istisqa di halaman Masjid Raya Mujahidin. Kegiatan ini diharapkan dapat membawa berkah hujan untuk meredam titik api dan membersihkan udara Pontianak dari kepungan asap.