Data Kementerian Kesehatan tahun 2024 menunjukkan tren mengkhawatirkan terkait infeksi menular seksual (IMS) di Indonesia, dengan 23.347 kasus sifilis dan 10.506 kasus gonore yang tercatat. Fenomena ini tidak hanya menyoroti tingginya angka infeksi baru, tetapi juga ancaman kesehatan yang lebih kompleks: resistensi antibiotik.
Pakar seks dr. Boyke Dian Nugraha mengungkapkan bahwa banyak obat yang dahulu menjadi standar pengobatan, seperti penisilin dan ciprofloxacin, kini kehilangan efektivitasnya dalam menangani gonore. Bakteri penyebab IMS telah mengalami mutasi genetik akibat penggunaan antibiotik yang sembarangan, seperti konsumsi obat tanpa resep dokter atau penggunaan dosis yang tidak tuntas. Kondisi ini membuat penanganan penyakit menjadi lebih sulit dan memerlukan pengujian laboratorium yang lebih mendalam untuk menentukan jenis antibiotik yang masih ampuh.
Selain ancaman resistensi, data mengenai HIV di Indonesia juga menempatkan tantangan besar bagi sistem kesehatan nasional. Dengan posisi Indonesia di peringkat ke-14 dunia untuk jumlah orang dengan HIV (ODHIV), pemerintah menghadapi kendala besar karena baru sekitar 63 persen pengidap yang mengetahui status kesehatannya. Kurangnya deteksi dini ini berdampak langsung pada rendahnya angka supresi viral load yang krusial dalam menekan rantai penularan.
Dr. dr. Hanny Nilasari dari Departemen Dermatologi dan Venereologi FKUI-RSCM menekankan bahwa banyak infeksi IMS yang tidak menunjukkan gejala awal, terutama pada perempuan. Hal ini sering menyebabkan keterlambatan penanganan yang berujung pada komplikasi serius seperti radang panggul, infertilitas, hingga risiko kesehatan fatal pada bayi jika infeksi terjadi selama kehamilan.
Edukasi kesehatan reproduksi yang komprehensif menjadi kunci utama dalam meredam tren ini. Generasi muda diminta untuk lebih bijak dalam memilih perilaku seksual dan memahami bahwa penggunaan kontrasepsi seperti kondom tetap menjadi langkah preventif paling efektif untuk meminimalisir risiko penularan. Selain itu, tenaga medis sangat menganjurkan skrining rutin serta vaksinasi untuk jenis penyakit tertentu, seperti HPV dan hepatitis, guna menekan angka kesakitan di masa depan.