Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengambil langkah cepat dalam memitigasi dampak sebaran abu vulkanik yang melanda kawasan setempat. Serangkaian aksi terpadu diluncurkan, meliputi pemantauan kualitas udara secara intensif, penyemprotan jalan utama, penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi peserta didik, hingga penyiapan fasilitas pelayanan kesehatan bagi warga.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bogor, Ana Ismawati, menegaskan bahwa keselamatan serta kesehatan masyarakat menjadi prioritas utama sebagaimana diinstruksikan oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim. Warga diminta tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan saat harus beraktivitas di luar ruangan, termasuk mengenakan masker dan menghentikan kegiatan outdoor jika terjadi hujan abu.
Sebagai tindakan preventif pada sektor pendidikan, Pemkot Bogor resmi memberlakukan PJJ untuk jenjang TK, SD, dan SMP sejak Senin (7/9/2026). Di saat bersamaan, tim gabungan dari BPBD, Dinas Damkar, serta dukungan TNI dan Polri dikerahkan untuk melakukan penyemprotan metode water mist di berbagai fasilitas publik dan ruas jalan protokol guna menekan sebaran debu di udara.
Guna melindungi kelompok rentan seperti lansia dan warga dengan riwayat penyakit pernapasan, sebanyak 190.150 masker telah disalurkan secara bertahap melalui puskesmas, kantor kelurahan, hingga posyandu. Langkah ini diselaraskan dengan pemantauan kualitas udara berkala yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup melalui Air Quality Monitoring System (AQMS) serta akademisi IPB University.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kota Bogor terus memperketat surveilans di 25 Puskesmas. Walau tren indikator kesehatan secara keseluruhan stabil, tercatat adanya kenaikan pada kasus Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dari 24 menjadi 31 kasus, serta iritasi mata (konjungtivitis) dari 30 menjadi 36 kasus. Pemkot memastikan stok obat-obatan dan APD mencukupi, seraya mengimbau masyarakat untuk hanya memantau informasi resmi terverifikasi.