Mengantisipasi risiko paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau, Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengambil langkah siaga penuh dengan menyiagakan seluruh fasilitas kesehatan dan tenaga medis di wilayahnya. Upaya tanggap darurat ini disiapkan untuk melindungi warga dari potensi gangguan kesehatan yang diperparah oleh kondisi musim kemarau.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, menjelaskan bahwa sebaran abu vulkanik mengandung partikel halus dan gas iritan yang berisiko memicu gangguan saluran pernapasan. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan batuk, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita penyakit kronis seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Paparan material vulkanik ini juga dapat memicu iritasi mata, masalah kulit, hingga mengontaminasi sumber air dan makanan yang terbuka.

Guna memitigasi ancaman tersebut, Dinkes Kota Tangerang telah menginstruksikan seluruh puskesmas dan rumah sakit untuk memastikan ketersediaan pasokan logistik dan obat-obatan esensial. Persiapan mencakup tabung oksigen, pulse oximeter, inhaler, obat pembilas mata steril, hingga Alat Pelindung Diri (APD) dan masker respirator (N95, KN95, KF94) bagi petugas lapangan, serta sistem armada ambulans rujukan yang responsif.

Selain kesiapan fasilitas medis, pemantauan harian (surveilans) terhadap peningkatan kasus gangguan pernapasan terus dijalankan secara ketat melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Pengawasan intensif diprioritaskan kepada kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit menahun. Dinkes juga berkoordinasi secara berkala dengan BMKG, BPBD, dan Dinas Lingkungan Hidup untuk memantau perkembangan kualitas udara (PM2.5 dan PM10).

Sebagai langkah pencegahan mandiri, masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan. Jika harus beraktivitas di luar rumah, warga diwajibkan mengimbangi diri dengan penggunaan masker dan kacamata pelindung. Warga juga disarankan menutup rapat ventilasi serta penampungan air dan makanan, serta membasahi permukaan abu vulkanik sebelum membersihkannya agar tidak beterbangan dan terhirup.