Sektor pertanian dan industri madu Australia kini tengah menghadapi tekanan berat akibat merebaknya wabah tungau varroa (Varroa destructor). Parasit mematikan ini tidak hanya merusak populasi lebah madu, tetapi juga mengancam rantai produksi pangan yang sangat bergantung pada proses penyerbukan alami tanaman hortikultura.

Prof. Ronny Rachman Noor, Pakar Genetika Ekologi dari IPB University, memperkirakan Australia akan mengalami krisis polinasi ekstrem pada tahun 2026. Menjelang puncak musim penyerbukan pada Agustus mendatang, negara tersebut diprediksi mengalami kelangkaan hingga 290 ribu koloni lebah akibat kegagalan dalam mengendalikan penyebaran hama ini.

Dampak ekonomi dari krisis ini sangat signifikan mengingat jasa penyerbukan lebah menyumbang sekitar AUD 14,2 miliar per tahun bagi sektor agrikultur Australia. Tingginya biaya penanggulangan, ditambah rontoknya lebih dari 60 persen sarang lebah sejak tahun 2022, memaksa separuh dari pelaku usaha peternakan lebah di sana gulung tikar.

Secara biologis, tungau varroa menargetkan lebah madu (Apis mellifera) dengan cara menghisap hemolimfa atau darah lebah, yang melemahkan daya tahan tubuh mereka. Tak hanya itu, tungau ini bertindak sebagai pembawa virus berbahaya yang mempercepat kematian massal koloni. Kondisi kian pelik karena populasi tungau di wilayah New South Wales dan Queensland kini dilaporkan telah kebal terhadap bahan kimia seperti pyrethroid dan amitraz.

Belajar dari situasi darurat di Australia, Indonesia didorong untuk segera memperkuat sistem biosekuriti nasional. Prof. Ronny menekankan urgensi pengawasan ketat terhadap impor lebah dan produk turunannya. Langkah preventif berupa deteksi dini, diversifikasi polinator lokal, serta dukungan kebijakan dan insentif bagi peternak dalam negeri menjadi kunci untuk menjaga ketahanan pangan nasional di masa depan.