Fenomena kekeringan kembali membayangi berbagai wilayah di Pulau Jawa seiring masuknya musim kemarau yang datang lebih awal. Selain penurunan debit air sungai dan menyusutnya embung, gejala alam yang paling mencolok adalah munculnya retakan-retakan lebar di permukaan tanah sawah tadah hujan. Bagi masyarakat awam, kondisi ini kerap dianggap sebagai dampak biasa dari cuaca panas ekstrem. Namun, para ahli tanah memandang retakan tersebut sebagai sinyal darurat bahwa cadangan air tanah telah melewati ambang batas kritis.

Secara ilmiah, tanah akan menyusut dan retak ketika kadar air di dalamnya terus berkurang akibat proses penguapan (evapotranspirasi) hingga melewati batas susut alami. Karakteristik ini sangat bergantung pada jenis tanah. Tanah yang kaya akan kandungan mineral liat cenderung lebih cepat menyusut dan membelah ketika kehilangan kelembapan. Sebaliknya, tanah vulkanis yang kaya akan mineral alofan memiliki kapasitas retensi air yang lebih baik, sehingga retakan biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk terbentuk.

Kekhawatiran utama saat ini adalah laju pembentukan retakan tanah yang terjadi jauh lebih cepat dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Fenomena ini dipicu oleh kombinasi fatal antara perubahan iklim global dan degradasi kualitas lahan. Peningkatan suhu udara rata-rata sebesar satu hingga dua derajat Celsius memicu peningkatan laju penguapan hingga 10 persen. Situasi ini diperparah oleh minimnya pemakaian pupuk organik serta kebiasaan membakar sisa panen, yang membuat tanah kehilangan kemampuan alaminya dalam mengikat air.

Kondisi tanah yang ringkih ini berdampak langsung pada sistem ketahanan pangan nasional. Ketika tanah kehilangan kelembapannya dengan cepat, tanaman pertanian, terutama padi dan hortikultura, akan mengalami cekaman kekeringan lebih dini. Akibatnya, pertumbuhan akar terhambat, produktivitas menurun drastis, hingga risiko gagal panen yang meluas di lahan tadah hujan. Ketahanan pangan jangka panjang tidak lagi sekadar tentang luas lahan tanam, melainkan seberapa tangguh tanah tersebut menyimpan air di musim kering.

Untuk mengantisipasi ancaman ini, pendekatan pertanian harus bergeser pada pemulihan ekosistem tanah. Peningkatan bahan organik melalui pemberian kompos, biochar, dan pengembalian jerami ke lahan menjadi kunci untuk meningkatkan daya simpan air hingga 50 persen. Di samping itu, inovasi teknologi seperti sistem agrivoltaic—integrasi panel surya di atas lahan pertanian—menawarkan solusi ganda. Naungan dari panel surya terbukti mampu menurunkan suhu permukaan tanah, mengurangi laju penguapan, sekaligus menghasilkan energi bersih secara berkelanjutan.