Bank investasi terkemuka asal Amerika Serikat, Goldman Sachs, mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan pada kuartal kedua tahun 2026. Laba bersih perusahaan melonjak drastis berkat tingginya aktivitas perdagangan di pasar modal serta peningkatan volume transaksi korporasi berskala besar secara global.

Gejolak pasar yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong para investor untuk lebih aktif melakukan penyesuaian portofolio investasi mereka. Kondisi ini menjadi berkah bagi bisnis perdagangan ekuitas Goldman Sachs, yang pendapatannya meroket hingga mencapai level tertinggi sepanjang sejarah korporasi.

Selain dinamika pasar, penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX yang berlangsung pada akhir kuartal tersebut turut memberikan stimulus signifikan terhadap aktivitas pasar keuangan. Goldman Sachs bertindak sebagai salah satu penjamin emisi utama dalam aksi korporasi raksasa kedirgantaraan tersebut.

Secara rinci, pendapatan dari sektor perdagangan ekuitas mengalami lonjakan sebesar 72 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi 7,42 miliar dolar AS (setara Rp 134,32 triliun). Di sisi lain, bisnis perdagangan obligasi, valuta asing, dan komoditas juga menunjukkan performa positif dengan kenaikan 32 persen menjadi 4,59 miliar dolar AS (sekitar Rp 83,05 triliun).

Chief Executive Officer (CEO) Goldman Sachs, David Solomon, menyatakan bahwa momentum pertumbuhan terus menguat di seluruh lini bisnis perusahaan. Menurutnya, para klien mempercayakan transaksi paling strategis dan penting mereka kepada Goldman Sachs, yang kemudian memicu peningkatan aktivitas di unit bisnis lainnya.

Dengan hasil tersebut, Goldman Sachs membukukan total laba bersih sebesar 6,63 miliar dolar AS atau setara Rp 120 triliun, yang setara dengan 20,98 dolar AS per saham. Angka ini naik hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencatatkan laba bersih sebesar 3,72 miliar dolar AS (sekitar Rp 67,33 triliun). Pasca-rilis laporan keuangan ini, saham Goldman Sachs pun terangkat sekitar 2 persen pada perdagangan prapasar.

Keberhasilan kinerja keuangan ini juga ditopang oleh maraknya aktivitas merger dan akuisisi (M&A). Berdasarkan data London Stock Exchange Group (LSEG), nilai transaksi merger global mencatat rekor tertinggi pada paruh pertama 2026, terutama didorong oleh transaksi bernilai di atas 10 miliar dolar AS. Dampaknya, pendapatan dari divisi perbankan investasi Goldman Sachs terkerek naik 55 persen menjadi 3,40 miliar dolar AS (setara Rp 61,40 triliun) yang ditopang oleh penerbitan saham, obligasi, serta jasa penasihat transaksi.