Harapan agar alergi dapat sembuh sepenuhnya kerap muncul pada banyak penderita, terutama ketika gejala mulai jarang kambuh setelah dewasa atau setelah lama menghindari pemicunya. Namun secara medis, kondisi ini tidak selalu berarti alergi benar-benar hilang secara permanen.
Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali zat tertentu sebagai ancaman. Mengutip penjelasan Mayo Clinic, tubuh kemudian membentuk antibodi imunoglobulin E atau IgE yang memicu pelepasan histamin. Proses inilah yang menimbulkan keluhan seperti gatal, ruam, bersin, mata berair, hingga sesak napas.
Karena melibatkan memori sistem imun, respons alergi dapat bertahan lama di dalam tubuh. Oleh sebab itu, dalam dunia medis, istilah yang lebih sering digunakan adalah alergi terkendali atau berada dalam fase remisi, bukan sembuh total.
Meski demikian, penderita alergi tetap dapat menjalani aktivitas secara normal apabila kondisi tersebut dikelola dengan baik. Pengendalian alergi umumnya dilakukan melalui penghindaran alergen, penggunaan obat seperti antihistamin dan kortikosteroid sesuai anjuran dokter, serta terapi khusus pada kasus tertentu.
Salah satu metode yang dapat membantu adalah imunoterapi atau allergy shots. Terapi ini bertujuan melatih sistem imun agar lebih toleran terhadap alergen secara bertahap. Jika dilakukan rutin dan sesuai pengawasan tenaga medis, reaksi tubuh terhadap pemicu alergi tertentu dapat berkurang dari waktu ke waktu.
Pada anak-anak, beberapa jenis alergi makanan memang berpeluang membaik seiring pertumbuhan usia. Studi berjudul Natural course of IgE-mediated food allergy in children menyebut alergi susu sapi termasuk yang cukup sering mengalami perbaikan. Sekitar 42 persen anak mulai toleran terhadap susu sapi pada usia 8 tahun, lalu meningkat menjadi 79 persen pada usia 16 tahun.
Alergi telur juga memiliki peluang membaik yang relatif tinggi. Sekitar 66 hingga 71 persen anak disebut mulai toleran terhadap telur pada usia 4 sampai 6 tahun. Bahkan, sebagian besar kasus alergi telur dapat mereda ketika anak tumbuh besar hingga memasuki masa remaja.
Namun, tidak semua alergi memiliki pola yang sama. Alergi kacang tanah, kacang pohon atau tree nuts, serta makanan laut cenderung lebih menetap hingga dewasa. Pada alergi kacang tanah, hanya sekitar 20 hingga 30 persen anak yang akhirnya dapat mengembangkan toleransi saat bertambah usia.
Kondisi serupa juga ditemukan pada alergi makanan laut. Tingkat toleransi penuh pada anak prasekolah dilaporkan hanya sekitar 3,4 persen, meski angkanya dapat meningkat hingga sekitar 45 persen saat memasuki usia remaja.
Dengan demikian, perjalanan alergi pada setiap orang dapat berbeda. Sebagian mengalami perbaikan signifikan, sebagian lainnya tetap sensitif terhadap alergen tertentu sepanjang hidup. Pemeriksaan dan konsultasi dengan tenaga medis tetap diperlukan agar penderita mendapatkan penanganan yang aman dan tepat.