Perkembangan teknologi digital yang kian pesat membuka keran peluang baru bagi generasi muda di Bali untuk merambah dunia wirausaha. Melalui konsep "digitalpreneur", para pemuda kini memiliki medium yang luas untuk merintis bisnis mandiri dengan memanfaatkan platform digital tanpa terikat batasan fisik konvensional.

Duwi Oktaviana, seorang akademisi dari Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja, menjelaskan bahwa keberadaan media sosial, lokapasar (marketplace), serta kecerdasan buatan (AI) telah merevolusi lanskap bisnis modern. Kini, modal finansial yang besar bukan lagi satu-satunya penentu kesuksesan. Penguasaan teknologi, kreativitas, dan kejelian membaca peluang pasar justru menjadi modal utama yang lebih berharga.

Kendati demikian, Duwi mengingatkan para wirausahawan muda agar tidak terjebak dalam ilusi kesuksesan instan. Ia menekankan bahwa popularitas atau konten yang viral di media sosial tidak menjamin kesehatan finansial dan keberlanjutan sebuah unit usaha dalam jangka panjang. Pengusaha muda dituntut tetap fokus pada kualitas produk, manajemen keuangan yang sehat, serta strategi bisnis yang terukur.

Lebih lanjut, ia menyoroti risiko ketergantungan yang tinggi terhadap algoritma satu platform digital tertentu. Sebagai solusinya, digitalpreneur harus mampu membangun hubungan pelanggan yang kuat secara organik dan diversifikasi saluran penjualan. Di sisi lain, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) disarankan untuk membantu efisiensi riset pasar dan promosi, selama tidak mengikis daya pikir kritis dan sentuhan kreativitas manusia.

Menghadapi dinamika ini, sektor pendidikan tinggi memikul tanggung jawab besar untuk mencetak kreator lapangan kerja baru. Duwi mendorong kampus-kampus di Bali untuk memberikan bekal praktis melalui proyek bisnis nyata dan pendampingan berkelanjutan. Hal ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya menguasai teori di atas kertas, tetapi juga siap mental dalam menghadapi fluktuasi pasar yang sesungguhnya.