Transformasi digital kini merambah sektor industri kreatif tradisional di Sidoarjo. Salah satu pelopornya, Batik Tulis Al Huda, sukses meningkatkan angka penjualan hingga 20 persen setelah mengintegrasikan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (AI) ke dalam strategi pemasaran mereka. Langkah adaptif ini diambil untuk memastikan eksistensi batik tulis lokal tetap bersinar di tengah gempuran modernisasi.
Pemilik Batik Tulis Al Huda sekaligus Ketua Paguyuban Batik Sidoarjo, Nurul Huda, mengungkapkan bahwa pemanfaatan AI bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan kebutuhan mendesak untuk memperluas penetrasi pasar, baik di tingkat domestik maupun ekspor. Menurutnya, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dituntut dinamis dalam mengikuti arus perkembangan teknologi informasi demi menggaet konsumen yang lebih luas.
Meski pemasaran digital menjadi ujung tombak promosi baru, Huda menegaskan metode penjualan konvensional secara tatap muka tetap dipertahankan. Stabilitas bisnisnya pun terbantu berkat kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo yang mewajibkan para aparatur sipil negara (ASN) mengenakan batik tulis khas daerah setempat pada hari-hari tertentu.
Daya tarik Batik Tulis Al Huda juga telah memikat wisatawan mancanegara, khususnya pelancong dari kapal pesiar yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Wisatawan asing ini sangat meminati motif bertema satwa. Selain itu, generasi muda Sidoarjo kini mulai mengapresiasi batik tulis karena nilainya yang eksklusif, di mana proses pengerjaan manual membuat setiap helai kain memiliki keunikan motif tersendiri.
Koleksi kain batik tulis di toko ini ditawarkan dengan harga variatif, berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp5 juta per lembar, menyesuaikan tingkat kerumitan motif serta material bahan dasar. Sementara itu, Pemkab Sidoarjo melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) terus berkomitmen mendukung ekosistem ini melalui pembinaan digitalisasi produk, pelatihan pengemasan, pameran dagang, hingga pendampingan pendaftaran hak kekayaan intelektual (HAKI).