Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Kesehatan setempat bergerak cepat merespons kenaikan kasus rubella dengan mengakselerasi program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Langkah preventif ini diambil guna menekan laju penyebaran virus yang cenderung meningkat sepanjang tahun ini, meskipun penularannya dipastikan tidak saling berkaitan secara epidemiologis.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul, Samsu Aryanto, menjelaskan bahwa vaksinasi Measles Rubella (MR) ini menyasar kelompok bayi, balita di bawah dua tahun (baduta), hingga murid sekolah dasar. Pendistribusian vaksin ke seluruh puskesmas di wilayah Bantul telah dirancang dalam beberapa fase, dengan tahap pertama berlangsung pada Agustus dan tahap berikutnya dijadwalkan pada November mendatang.
Sepanjang tahun ini, Dinkes Bantul mematok target sasaran imunisasi MR menjangkau puluhan ribu anak. Secara terperinci, imunisasi menyasar 8.410 bayi berusia sembilan bulan, 9.418 anak usia 18 bulan, serta 12.710 siswa sekolah dasar sebagai penerima imunisasi lanjutan. Program terstruktur ini diharapkan mampu mengoptimalkan proteksi tubuh anak sejak dini.
Samsu menekankan pentingnya vaksinasi berjenjang ini untuk membentuk antibodi yang solid. Imunisasi rubella tidak hanya krusial bagi keselamatan anak, tetapi juga menjadi benteng pertahanan bagi ibu hamil. Infeksi virus ini pada masa kehamilan sangat berbahaya karena berisiko memicu Sindrom Rubella Kongenital, yang dapat mengakibatkan cacat lahir seperti kelainan jantung, katarak bawaan, dan gangguan pendengaran pada bayi.
Berdasarkan data Dinkes Bantul, tercatat ada 35 kasus rubella yang ditemukan sepanjang tahun ini, melonjak signifikan dari tahun sebelumnya yang hanya berjumlah 14 kasus. Mayoritas penderita didominasi oleh kelompok balita, yang rentan terpapar akibat belum mendapatkan imunisasi lengkap serta kondisi daya tahan tubuh yang belum matang.
Di samping menggencarkan imunisasi, Dinkes Bantul mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Upaya mandiri seperti menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk yang benar, serta mengonsumsi makanan bernutrisi seimbang dinilai sangat efektif untuk memutus rantai penularan di lingkungan keluarga.