Anemia defisiensi besi masih menjadi tantangan kesehatan kronis di Indonesia yang telah berlangsung lebih dari delapan dekade. Data menunjukkan bahwa kondisi ini masih dialami oleh sekitar satu dari empat anak balita, serta ibu hamil dan menyusui. Menurut pakar kesehatan, dampak dari kekurangan zat besi ini melampaui masalah klinis, yakni berpotensi menghambat perkembangan kognitif anak yang berdampak pada performa akademis di masa depan.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menderita anemia defisiensi besi cenderung memiliki skor kemampuan daya ingat kerja (working memory) yang lebih rendah. Gangguan kognitif ini secara langsung memengaruhi proses belajar dan kemampuan pemecahan masalah. Dalam jangka panjang, penurunan kapasitas belajar ini akan mencerminkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang kurang optimal saat memasuki usia produktif, sehingga menjadi beban bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, PhD, menekankan bahwa pencegahan anemia harus dimulai sejak masa kehamilan. Ibu hamil yang mengalami anemia berisiko tinggi melahirkan bayi prematur atau dengan berat badan lahir rendah, yang kemudian memicu risiko anemia berkelanjutan pada anak. Oleh karena itu, para ahli mengusulkan tiga pilar strategis: peningkatan edukasi masyarakat, penguatan riset dan inovasi, serta perluasan akses skrining atau deteksi dini.
Sebagai langkah nyata, kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan industri menjadi sangat krusial. Beberapa inisiatif telah dilakukan, seperti penyediaan layanan edukasi digital bagi ibu hamil, pengembangan publikasi ilmiah berbasis data lokal, serta pemanfaatan teknologi skrining non-invasif seperti 'Iron Calculator'. Pendekatan komprehensif ini diharapkan mampu menekan angka prevalensi anemia secara signifikan demi mewujudkan generasi masa depan Indonesia yang lebih sehat dan berdaya saing.