Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Anak Gunung Krakatau yang menjangkau kawasan Lampung, Banten, Jabodetabek, hingga sebagian Jawa Barat memicu keprihatinan serius terkait dampaknya bagi kesehatan masyarakat. Berbeda dari debu jalanan biasa, abu vulkanik menyimpan bahaya laten berupa partikel silika halus nan tajam yang menyerupai serpihan kaca mikroskopis.

Ahli Kesehatan Lingkungan sekaligus Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menegaskan bahwa sifat abrasif dari partikel silika tersebut berpotensi tinggi merusak organ tubuh yang terpapar langsung, terutama mata, saluran pernapasan, serta kulit. Kerusakan pada organ luar ini menjadi ancaman nyata apabila masyarakat tidak mengantisipasinya dengan benar.

Pada organ mata, bahaya abu vulkanik dapat memicu iritasi berat, konjungtivitis, hingga cedera kornea. Pengguna lensa kontak memiliki tingkat risiko yang jauh lebih tinggi karena gesekan partikel silika dapat memperparah goresan. Jika terpapar abu, warga diimbau keras untuk tidak mengucek mata, melainkan segera membilasnya dengan air bersih mengalir atau larutan saline steril, serta merujuk ke fasilitas kesehatan apabila iritasi berlanjut.

Ancaman tak kalah serius mengintai sistem pernapasan, di mana partikel abu halus yang terhirup berisiko memicu batuk kering, iritasi tenggorokan, sesak napas, hingga nyeri dada. Kelompok rentan seperti anak balita, lansia, serta penderita asma atau bronkitis kronis diminta membatasi aktivitas luar ruangan agar sirkulasi udara yang terkontaminasi tidak menarik partikel berbahaya lebih dalam ke organ paru-paru.

Guna meminimalkan dampak buruk tersebut, masyarakat disarankan menerapkan langkah proteksi mandiri, seperti menutup rapat pintu dan jendela rumah, mengenakan masker standar N95 serta kacamata pelindung bagi pekerja lapangan. Selain itu, pakaian yang terpapar abu sebaiknya langsung dibilas tanpa dikibas-kibaskan, menghindari penjemuran di area terbuka, serta memastikan seluruh bahan makanan dan minuman tersimpan rapat demi menjaga higienitas.