Bursa saham Jepang mencatatkan rapor merah pada perdagangan hari Selasa (25/8/2026). Indeks Nikkei 225 ditutup merosot sebesar 0,87 persen ke posisi 64.958,45, memperpanjang tren koreksi akibat maraknya aksi jual pada saham-saham sektor teknologi.
Sepanjang jam perdagangan, pergerakan indeks terpantau sangat fluktuatif. Setelah dibuka melemah 332 poin di level 65.195,26, indeks sempat menguat tipis ke level tertinggi harian di 65.279,63. Namun, tekanan jual yang masif menyeret indeks hingga menyentuh titik terendah di 64.609,47 sebelum akhirnya ditutup sedikit membaik di area 64.900.
Kemerosotan pasar saham Tokyo kali ini didominasi oleh kejatuhan saham-saham di sektor semikonduktor, mengekor pelemahan indeks Nasdaq di bursa Wall Street semalam. Sejumlah pelaku pasar memilih mengamankan keuntungan (profit taking) sebelum rilis laporan keuangan kuartalan raksasa cip Nvidia yang dijadwalkan pada hari Rabu. Laporan ini krusial untuk mengonfirmasi kelayakan valuasi saham teknologi terkait prospek belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) global.
Selain faktor dari sektor teknologi, sentimen negatif juga datang dari ranah geopolitik global. Rencana Amerika Serikat untuk mengumumkan sanksi finansial baru terhadap jaringan perdagangan Iran memicu kekhawatiran atas stabilitas rantai pasok energi dunia. Ketidakpastian ini diperparah oleh lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah yang membuat investor cenderung bersikap defensif menjelang simposium ekonomi Jackson Hole akhir pekan ini.