Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) menjadi momentum bagi PT Hutama Karya (Persero) untuk memamerkan lompatan teknologi dalam sektor konstruksi tanah air. Perusahaan pelat merah ini terus mengintegrasikan teknologi Building Information Modeling (BIM), pemindaian LiDAR, hingga konsep Lean Construction guna memastikan setiap pembangunan infrastruktur strategis berjalan lebih efektif dan efisien.

Rekam jejak digitalisasi Hutama Karya telah diinisiasi sejak penugasan megaproyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) pada tahun 2014. Demi menunjang kompleksitas proyek tersebut, perusahaan membentuk unit khusus BIM pada 2018 yang kemudian ditingkatkan menjadi bagian dari Divisi Sistem dan Teknologi Informasi pada 2020. Komitmen ini membuahkan hasil ketika BUMN ini menjadi korporasi konstruksi pertama di Indonesia yang meraih sertifikat internasional ISO 19650 Kitemark Part 1, 2, dan 5 pada tahun 2021.

Sistem BIM diterapkan secara komprehensif mulai dari tahap perencanaan untuk mendeteksi potensi kendala desain, fase konstruksi guna memantau progres dan mengendalikan biaya, hingga tahap pemeliharaan aset digital pascakonstruksi. Seluruh data proyek ini diintegrasikan melalui platform kolaborasi digital Common Data Environment (CDE) yang dapat diakses secara aktual (real-time) oleh seluruh pemangku kepentingan.

Semangat inovasi ini sebenarnya mewarisi sejarah panjang perseroan yang sebelumnya telah melahirkan teknologi legendaris Sosrobahu ciptaan Ir. Tjokorda Raka Sukawati. Teknik pemutaran bahu jembatan layang tersebut telah diakui dunia karena mampu meminimalkan dampak kemacetan lalu lintas selama masa pembangunan proyek jalan layang.

Penerapan teknologi canggih ini memberikan dampak nyata di lapangan. Pada proyek Bendungan Semantok, penggunaan BIM sukses memangkas potensi keterlambatan hingga empar sampai enam bulan dan menyelamatkan proyek dari kerugian pengerjaan ulang (rework) senilai delapan persen dari nilai kontrak. Sementara itu, Jalan Tol Trans Sumatera Ruas Rengat–Pekanbaru yang memadukan BIM dan LiDAR berhasil meraih penghargaan internasional di ajang Autodesk ASEAN Innovation Awards 2021.

Di sisi lain, penerapan metode Lean Construction berbasis keberlanjutan lingkungan juga diterapkan di berbagai daerah. Pada proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN), metode ini menghemat biaya sewa alat sebesar 20 persen, mengurangi konsumsi bahan bakar 15 persen, serta memangkas emisi karbon hingga 50 ton CO₂. Selain itu, pengerjaan proyek BRI Ragunan Paket 2 dan Tol Bayung Lencir–Tempino Seksi 3 tercatat rampung lebih cepat dari target awal berkat integrasi sistem manajemen proyek yang adaptif ini.

Plt. Executive Vice President (EVP) Engineering, Riset & Teknologi Informasi Hutama Karya, Amy Rachmadhani W, menegaskan bahwa penerapan teknologi ini didasarkan pada kebutuhan bisnis nyata, bukan sekadar mengikuti tren industri. Sementara itu, Plt. EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menambahkan bahwa transformasi digital tersebut memperkuat reputasi korporasi dalam menghadirkan infrastruktur yang akuntabel, terukur, dan berkualitas tinggi dari Sabang hingga Merauke.

Menatap masa depan, rencana strategis korporasi periode 2025–2029 akan difokuskan pada penguatan konstruksi digital melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Digital Twin, serta otomatisasi sistem data. Langkah ini sejalan dengan Asta Cita Pemerintah dalam mendorong pemerataan infrastruktur yang berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.