Produsen otomotif BYD resmi memperkenalkan inovasi terbarunya, teknologi Dual Mode (DM), untuk pasar Indonesia. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat kepemimpinan mereka di era elektrifikasi nasional dengan menawarkan solusi kendaraan ramah lingkungan yang sangat efisien, dengan klaim konsumsi bahan bakar mencapai 65 kilometer per liter.
Kehadiran teknologi hybrid berbasis kemudi listrik utama (electric-first) ini dinilai sangat relevan dengan dinamika pasar otomotif tanah air. Meskipun adopsi kendaraan listrik murni (EV) melonjak tajam hingga menyentuh pangsa pasar 20 persen pada kuartal pertama tahun 2026—yang sebagian besar didorong oleh penetrasi agresif BYD sejak 2024—kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) konvensional terpantau masih mendominasi sekitar 75 persen pasar domestik.
Berbeda dengan sistem hibrida konvensional yang menitikberatkan kerja pada mesin bensin, teknologi DM milik BYD mengutamakan motor listrik sebagai penggerak utama. Mesin bensin hanya difungsikan sebagai generator penyokong daya saat kapasitas baterai menurun (mode HEV Series), atau bekerja tandem dengan motor listrik saat kendaraan membutuhkan performa ekstra, seperti saat melaju di jalan tol (mode HEV Parallel).
Melalui mekanisme transisi sistem yang mulus tanpa hentakan, pengujian internal mencatat biaya operasional teknologi ini hanya berkisar Rp300 per kilometer. Kombinasi efisiensi tinggi dan performa senyap khas EV ini dirancang untuk menjawab tantangan mobilitas masyarakat urban Indonesia, seperti kemacetan parah di kota besar serta lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM).
Selain menekan biaya operasional perjalanan, teknologi DM juga diproyeksikan sebagai jembatan bagi konsumen yang masih ragu beralih ke EV murni akibat keterbatasan infrastruktur stasiun pengisian daya (charging station) di luar kota besar. Dengan kemampuan menempuh jarak jauh tanpa kecemasan kehabisan daya (range anxiety), teknologi ini diharapkan dapat mempercepat transisi menuju mobilitas yang lebih hijau dan berkelanjutan di Indonesia.