Kebiasaan menatap layar gawai atau scrolling media sosial dalam waktu lama kini menjadi fenomena umum di kalangan generasi muda. Namun, pakar kesehatan mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi kesehatan bukan terletak pada aktivitas digital tersebut, melainkan kebiasaan duduk terlalu lama yang menyertainya, yang dapat menghambat suplai oksigen ke otak.
Dosen Fisiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, menjelaskan bahwa otak manusia membutuhkan sekitar 20 persen dari total pasokan oksigen tubuh. Saat seseorang duduk terlalu lama, gaya gravitasi menyebabkan darah menumpuk di bagian bawah tubuh, sehingga aliran darah dan oksigen ke otak menjadi tidak optimal.
Untuk mengantisipasi penurunan fungsi otak ini, Zaenal menyarankan masyarakat membatasi durasi duduk maksimal satu jam. Setelah itu, lakukan jeda selama dua menit untuk berdiri atau berjalan ringan. Ia juga membagikan tips saat bangun tidur agar aliran darah tetap stabil, yakni menghindari langsung berdiri secara mendadak. Sebaliknya, disarankan berbaring miring selama 30 detik, duduk tenang selama 30 detik, lalu berdiri perlahan sembari melakukan gerakan jinjit delapan kali guna memompa darah ke atas.
Lebih lanjut, Zaenal menekankan pentingnya olahraga terstruktur melalui konsep Exercise is Medicine. Layaknya obat, olahraga harus disesuaikan berdasarkan takaran dosis, frekuensi, intensitas, serta durasi yang tepat. Aktivitas fisik yang benar tidak hanya meningkatkan kebugaran secara keseluruhan, tetapi juga memicu pelepasan hormon endorfin yang mampu memperbaiki suasana hati.
Kendati demikian, tidak semua jenis olahraga aman dilakukan tanpa persiapan. Olahraga kompetitif dengan tempo tidak beraturan, seperti futsal atau bulu tangkis, menuntut kesiapan fisik prima. Zaenal juga mengingatkan bahaya berolahraga berat sesaat setelah makan, karena aktifnya sistem pencernaan dapat mengganggu kinerja jantung dan memicu risiko fatal seperti henti jantung mendadak.
Sebagai panduan, ia menjabarkan tiga prinsip olahraga yang efektif menjaga kesehatan otak. Pertama, gunakan kelompok otot besar seperti tungkai dan lengan. Kedua, pilih gerakan berirama konstan seperti jalan cepat atau bersepeda. Ketiga, lakukan secara berkesinambungan selama 30 hingga 40 menit tanpa jeda yang drastis agar sirkulasi oksigen ke otak tetap terjaga dengan baik.