Pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Sumenep kini tengah menjadi sorotan hangat. Sejumlah pihak mengingatkan agar program strategis ini tidak berhenti sebagai proyek pengadaan fisik belaka, melainkan harus dirancang sebagai pilar ekonomi desa yang mandiri dan berkelanjutan. Kekhawatiran tersebut mencuat dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Pembangunan KDKMP, Antara Bisnis atau Proyek?" yang diinisiasi oleh Asosiasi Media Online Sumenep (AMOS) di Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura.
Ketua AMOS, Junaidi, menegaskan bahwa kesuksesan KDKMP tidak boleh diukur secara instan dari megahnya infrastruktur yang terbangun. Ia menekankan pentingnya peta jalan bisnis yang matang dan keterlibatan aktif masyarakat lokal sejak awal. Menurutnya, tanpa tata kelola yang profesional, bangunan koperasi tersebut terancam mangkrak dan tidak memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi warga desa.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Sumenep, Moh. Ramli, menjelaskan bahwa KDKMP merupakan mandat program dari pemerintah pusat. Dalam pelaksanaannya, pemerintah daerah memegang peran sebagai fasilitator, terutama dalam penyediaan lahan, sementara pengerjaan fisik diserahkan kepada PT Agrinas sebagai mitra pelaksana yang ditunjuk langsung oleh pusat.
Kendati demikian, skema tersebut menuai kritik dari Perkumpulan Kepala Desa Indonesia (PKDI) Sumenep. Ketua PKDI Sumenep, Abdul Hayat, menyayangkan minimnya pelibatan pemerintah desa dalam tahap perencanaan awal. Ia berpendapat bahwa kepala desa seharusnya tidak hanya diposisikan sebagai penyedia lahan, melainkan dilibatkan sebagai mitra strategis karena merekalah yang paling memahami potensi serta kebutuhan ekonomi di wilayahnya.
Langkah pengawasan juga ditekankan oleh pihak legislatif. Anggota DPRD Sumenep, Hairul Anwar, mendesak agar seluruh proses realisasi KDKMP berjalan transparan dan mematuhi regulasi pengadaan barang dan jasa guna menghindari implikasi hukum di kemudian hari. Selaras dengan itu, akademisi UNIBA Madura, Dr. Puji Susanto, menambahkan bahwa kekuatan utama koperasi terletak pada penciptaan aktivitas ekonomi riil yang dikelola secara profesional, bukan sekadar menjadikannya simbol administratif semata.