Anemia defisiensi besi masih menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia, terutama pada masa awal kehidupan anak. Dr. dr. Dian Novita Chandra, M.Gizi, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menekankan bahwa periode emas pertumbuhan anak sangat bergantung pada kecukupan zat besi, yang juga berperan vital dalam menjaga imunitas dan perkembangan otak.
Kondisi ini kerap dijuluki sebagai silent condition karena gejalanya tidak spesifik dan sering kali luput dari pengamatan orang tua. Pada fase awal, kekurangan zat besi tidak langsung memunculkan keluhan fisik yang nyata. Namun, jika dibiarkan tanpa penanganan, dampaknya bisa berlanjut hingga masa dewasa, termasuk menurunnya kapasitas belajar, daya konsentrasi, serta fungsi kognitif seseorang.
Gejala fisik yang umum muncul, seperti wajah pucat, mudah lelah, dan nafsu makan menurun, sering kali dianggap sebagai kondisi biasa. Oleh karena itu, edukasi mengenai pola makan seimbang sangat krusial. Selain menyediakan makanan kaya zat besi, penting pula memperhatikan faktor penyerapannya. Kombinasi makanan hewani dan nabati yang dibarengi dengan asupan vitamin C dapat membantu mengoptimalkan penyerapan zat besi oleh tubuh.
Pakar juga menyoroti pentingnya skrining awal melalui pendekatan non-invasif, seperti penggunaan iron calculator untuk menilai risiko kekurangan zat besi pada anak berdasarkan riwayat konsumsi dan kondisi kesehatan. Langkah ini memungkinkan intervensi diberikan lebih cepat sebelum kadar hemoglobin menurun drastis.
Hasil penelitian pada balita di wilayah perkotaan menunjukkan bahwa edukasi gizi saja tidak cukup; diperlukan dukungan pemenuhan nutrisi yang konsisten, termasuk melalui pangan fortifikasi. Dengan menggabungkan deteksi dini dan pemenuhan gizi yang terukur, diharapkan generasi mendatang di Indonesia dapat tumbuh lebih sehat, cerdas, dan optimal secara kognitif.