Menghadapi fenomena cuaca panas ekstrem yang melanda, praktisi medis mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam mengatur aktivitas fisik di luar ruangan. Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Antonius Andi Kurniawan, menekankan bahwa tubuh manusia merespons suhu tinggi dengan meningkatkan denyut nadi serta beban kerja jantung secara signifikan, sehingga risiko kelelahan fisik menjadi jauh lebih besar.

"Saat suhu udara meningkat, denyut nadi dan ritme pernapasan secara otomatis akan terpacu lebih cepat. Memaksakan diri berlatih dengan intensitas normal di bawah terik matahari bukan hanya membuat energi cepat terkuras, tetapi juga memicu peningkatan suhu inti tubuh yang membahayakan kesehatan," jelas dr. Andi di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Lebih lanjut, ia menyarankan agar para pegiat olahraga mengutamakan keselamatan dengan mengurangi durasi latihan serta menurunkan tingkat intensitasnya. Langkah ini menjadi krusial sebagai bentuk adaptasi tubuh agar tidak mengalami stres panas (heat stress). Bagi atlet yang tengah bersiap menghadapi kompetisi, proses aklimatisasi dengan berlatih pada kondisi lingkungan serupa dengan waktu perlombaan dinilai sangat membantu efektivitas tubuh.

Penting pula untuk mencermati tingkat kelembapan udara. Kelembapan yang tinggi menghambat penguapan keringat, yang notabene merupakan mekanisme pendingin alami tubuh. Jika hal ini diabaikan, tubuh dapat mengalami kondisi berbahaya mulai dari kram akibat panas, kelelahan hebat (heat exhaustion), hingga penurunan kesadaran atau heat stroke yang mengancam nyawa.