Dalam ajang Solar & Storage Live Vietnam 2026 yang berlangsung di Kota Ho Chi Minh, para pakar industri menegaskan bahwa transisi menuju energi bersih bukan lagi sekadar pilihan etis, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga daya saing di pasar global. Diskusi panel bertajuk "Ketika Energi Bersih Memberi Nilai pada Bisnis" menyoroti pergeseran paradigma, di mana investor kini menjadikan kepatuhan terhadap standar ESG (Environmental, Social, and Governance) sebagai faktor penentu dalam valuasi merger dan akuisisi.

Ibu Chu Thi Linh Chi, perwakilan dari KPMG Vietnam, menjelaskan bahwa perusahaan dengan kematangan ESG yang tinggi cenderung memiliki nilai tawar lebih besar di mata investor. Senada dengan hal tersebut, perwakilan Maersk menyatakan bahwa pasar global kini semakin memprioritaskan biaya logistik rendah karbon, di mana raksasa ritel seperti Nike dan Adidas mulai menjadikan energi terbarukan sebagai syarat wajib bagi mitra rantai pasokan mereka.

Namun, transisi hijau ini tidak terlepas dari tantangan berat. Bapak Le Duc Trung dari Bat Trang Ceramic mencatat bahwa kendala utama bagi sektor manufaktur, khususnya usaha kecil dan menengah (UKM), terletak pada keterbatasan akses permodalan dan ketidakpastian teknologi. Meski demikian, pengalaman Bat Trang membuktikan bahwa efisiensi energi yang tepat mampu memangkas biaya listrik hingga 50 persen sekaligus meningkatkan kualitas produk secara signifikan.

Para ahli menyarankan agar pelaku usaha kecil tidak bergerak sendiri. Kolaborasi dengan penyedia solusi teknologi dan proaktif dalam mencari skema investasi menjadi kunci untuk meringankan beban finansial awal. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem bisnis yang lebih stabil, efisien, dan siap menghadapi tuntutan keberlanjutan yang semakin ketat dalam ekonomi global masa depan.