Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur mendesak warga untuk memperkuat kewaspadaan terhadap penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus secara konsisten. Langkah preventif ini krusial mengingat penumpukan kasus DBD sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang kurang bersih, perubahan iklim pancaroba, serta tingginya mobilitas penduduk di wilayah perkotaan.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Arief Wahyudhy, memaparkan bahwa Kecamatan Cakung menempati urutan pertama dengan akumulasi kasus DBD tertinggi sepanjang periode Januari hingga 11 Juni 2026. Wilayah padat penduduk tersebut mencatatkan total 360 kasus selama rentang waktu tersebut.
Tren menarik juga terlihat di Kecamatan Matraman. Kendati menempati peringkat kedua di bawah Cakung dengan total 259 kasus, wilayah ini justru memegang angka kesakitan (incident rate) tertinggi di Jakarta Timur, yakni mencapai 141,68 kasus per 100.000 penduduk. Kondisi ini mencerminkan tingkat kepadatan penularan yang sangat tinggi di kawasan tersebut.
Selain kedua wilayah tersebut, sebaran kasus DBD yang cukup signifikan juga dilaporkan di beberapa kecamatan lain, di antaranya Ciracas (217 kasus), Kramat Jati (198 kasus), Duren Sawit (195 kasus), Pulogadung (194 kasus), Cipayung (147 kasus), Pasar Rebo (138 kasus), Jatinegara (130 kasus), dan Makasar (113 kasus). Secara umum, grafik kasus di tahun 2026 sempat merangkak naik sejak awal tahun hingga Maret, sebelum akhirnya melandai pada April dan Mei.
Arief menekankan bahwa penanggulangan DBD tidak bisa hanya bertumpu pada program pemerintah semata, melainkan butuh sinergi kolektif. Ia mengajak seluruh camat, lurah, kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik), hingga setiap kepala keluarga untuk aktif menjalankan aksi 3M Plus, seperti menguras wadah air, menutup rapat tempat penampungan, serta memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.