Keberadaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di dalam area Kompleks Olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, kembali menjadi sorotan publik. Warga setempat menilai lokasi fasilitas sampah tersebut tidak lagi relevan dengan fungsi utama kawasan sebagai pusat kegiatan olahraga dan ruang publik yang sehat.

Aktivitas pengangkutan sampah di pusat keramaian ini dinilai menciptakan polusi bau dan pemandangan yang kurang estetis bagi pengunjung. Masyarakat khawatir kondisi tersebut tidak hanya menurunkan kenyamanan berekreasi, tetapi juga berpotensi mencoreng citra Kota Tasikmalaya sebagai destinasi yang ramah bagi wisatawan maupun warga lokal.

Saeful Malik, seorang warga yang kerap beraktivitas di lokasi, menekankan pentingnya langkah konkret dari pemerintah agar kawasan Dadaha segera tertata. Senada dengan hal tersebut, Ade Tina, pengunjung lainnya, menyoroti risiko higienitas bagi area kuliner di sekitar lokasi yang sering terpapar bau menyengat dan ceceran sampah, terutama saat jam operasional padat.

Menanggapi aspirasi tersebut, Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, mengakui bahwa posisi TPS saat ini memang tidak ideal. Meski demikian, ia menjelaskan bahwa upaya relokasi masih terhambat oleh tantangan klasik, yakni keterbatasan lahan pengganti yang representatif bagi kebutuhan pengelolaan sampah kota.

Untuk memitigasi dampak negatif saat ini, Pemerintah Kota telah menginstruksikan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk mengoptimalkan frekuensi pengangkutan sampah. Langkah ini diambil agar volume sampah tidak menumpuk dan memicu polusi lingkungan sebelum solusi permanen berupa relokasi dapat direalisasikan.

Pihak DLH melalui Kabid Pengelolaan Sampah, Fery Arief Maulana, menegaskan kesiapan pihaknya untuk memindahkan TPS tersebut. Namun, proses ini memerlukan kajian mendalam terkait status kepemilikan dan legalitas lahan calon lokasi baru agar tidak menimbulkan kendala di kemudian hari.