BLITAR — Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menyelenggarakan forum ilmiah berskala internasional bertajuk The 1st International Conference on Eco-Innovation, Education, and Islamic Studies (ICEEIS) 2026 secara daring pada Sabtu (5/9/2026). Konferensi yang menjadi bagian dari semarak Hari Lahir (Harlah) ke-10 perguruan tinggi tersebut menggarisbawahi pentingnya menempatkan etika dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama di tengah pesatnya penetrasi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam ekosistem pendidikan.
Sekretaris BPP UNU Blitar, Rudiyanto Hendra Setiawan, menegaskan bahwa lompatan teknologi tidak boleh mengesampingkan harkat serta peran sentral manusia. Menurutnya, perkembangan AI harus disikapi secara bijak dengan tetap menjadikan prinsip kemanusiaan sebagai pijakan utama pembelajaran. Senada dengan hal tersebut, Ketua LPPM UNU Blitar sekaligus Ketua Panitia ICEEIS 2026, Ahmad Saifudin, menyampaikan bahwa forum ini dirancang sebagai ruang dialog akademis lintas negara untuk merespons dinamika perubahan teknologi yang sangat cepat.
Salah satu pembicara utama, Moses Adeleke Adeoye, memaparkan bahwa adopsi kecerdasan buatan dalam bidang pembelajaran, penelitian, dan administrasi mampu memangkas beban kerja rutin. Hal ini memberikan ruang lebih luas bagi para pendidik untuk fokus pada penalaran kritis, pengembalian keputusan, dan pendampingan peserta didik. Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi risiko seperti bias data, ancaman privasi, hingga kesenjangan akses. Oleh karena itu, penerapan AI di dunia akademik wajib berlandaskan pada prinsip keadilan, akuntabilitas, dan inklusivitas.
Perspektif lain dihadirkan oleh Hanafi Hussin dari Universiti Malaya yang menguraikan konsep Eko-Islam dan kearifan lokal sebagai instrumen pendidikan berkelanjutan. Di sisi lain, akademisi Muhammad Mujab menyoroti tantangan integrasi AI dalam studi keislaman. Walaupun AI mempermudah pencarian dan olah data tekstual, teknologi tersebut masih memiliki keterbatasan dalam memahami konteks sosial-historis serta riskan mengalami fenomena "halusinasi" informasi, sehingga verifikasi langsung dari pakar tetap mutlak diperlukan.
Konferensi internasional ini menghimpun 32 presenter dari empat negara, melibatkan akademisi dari berbagai perguruan tinggi nasional maupun luar negeri, seperti IAIN Pontianak, Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, hingga perwakilan dari Pakistan seperti The Islamia University of Bahawalpur dan University of the Punjab. Selain memfasilitasi pertukaran gagasan, luaran dari gelaran ini akan diterbitkan dalam prosiding ilmiah serta membekali peserta dengan rekomendasi publikasi pada jurnal internasional bereputasi.