Tren olahraga lari dengan tempo lambat atau dikenal sebagai slow jogging tengah naik daun di kalangan masyarakat urban Indonesia. Meski belakangan viral di media sosial akibat popularitasnya di Korea Selatan, aktivitas olahraga ini sebenarnya telah memiliki basis komunitas yang kuat di tanah air sejak akhir tahun 2017 melalui wadah Slow Jogging Indonesia (SJI).

Setelah sempat mengalami masa vakum karena sebagian anggotanya beralih ke lari cepat, minat terhadap olahraga santai ini kembali melonjak. Menjawab tingginya permintaan publik, SJI Chapter Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta kembali mengaktifkan sesi latihan bersama. Latihan perdana yang digelar pada pertengahan Juli 2026 disambut antusias oleh para pegiat olahraga baru.

Kapten SJI Chapter GBK, Wijang Sri Isnandita, mengungkapkan bahwa mayoritas peserta latihan didominasi oleh kelompok usia matang dan para pemula yang sedang beralih dari kebiasaan jalan kaki. Kelompok ini sering kali merasa kurang percaya diri untuk bergabung dengan komunitas lari umum yang biasanya didominasi anak muda dengan fokus pada pencapaian kecepatan atau pace.

Menurut Wijang, esensi utama dari slow jogging adalah membangun konsistensi bergerak tanpa tekanan target waktu maupun jarak. Evaluasi performa lari dan perbaikan postur tubuh baru dilakukan secara bertahap setelah peserta merasa nyaman. Pendekatan yang ramah dan inklusif inilah yang membuat olahraga ini terus diminati sebagai opsi menjaga kebugaran yang bebas dari rasa minder.