Setelah mencatatkan tren penguatan selama beberapa hari terakhir, harga emas dan perak dunia akhirnya mengalami tekanan jual. Koreksi ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang akan datang.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas ditutup melemah 0,26% pada level US$ 4.163,98 per troy ons pada perdagangan Senin (6/7/2026). Penurunan ini mengakhiri reli positif emas yang sempat melonjak hingga 4,2% dalam tiga hari berturut-turut, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak akhir Juni.

Pergerakan harga logam mulia saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika data ekonomi Amerika Serikat. Melambatnya pertumbuhan lapangan kerja pada Juni serta revisi turun data payroll bulan sebelumnya telah mengubah ekspektasi pasar terhadap langkah Federal Reserve (The Fed) terkait suku bunga. Sebagai aset non-imbal hasil, emas cenderung sensitif terhadap perubahan suku bunga acuan.

Para pelaku pasar saat ini tengah mengalihkan perhatian pada risalah rapat kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan akan dirilis pada hari Rabu. Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menyatakan bahwa investor akan mencermati dokumen tersebut guna mencari petunjuk kebijakan masa depan yang berpotensi memicu volatilitas di pasar.

Selain emas, perak juga mengalami nasib serupa dengan penurunan sebesar 0,52% pada penutupan Senin, sekaligus memutus tren kenaikan beruntun selama empat hari. Sementara itu, catatan dari J.P. Morgan mengindikasikan adanya batasan proyeksi pertumbuhan harga emas tahun ini, dengan estimasi berada di kisaran US$ 4.300 per troy ons pada kuartal ketiga dan US$ 4.500 per troy ons pada kuartal keempat mendatang.