Batu ginjal merupakan kondisi kesehatan yang kerap dianggap sepele, padahal dampaknya bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penyakit ini terjadi ketika endapan mineral keras mengkristal dan terbentuk di dalam organ ginjal akibat sisa-sisa mineral yang saling menggumpal. Seorang pakar urologi mengungkapkan berbagai faktor risiko serta tanda-tanda awal yang patut diwaspadai masyarakat.

Dr. Sarbjit Mohapatra, konsultan asosiasi urologi di Manipal Hospital, Bhubaneswar, India, menekankan bahwa dehidrasi merupakan salah satu pemicu utama terbentuknya batu ginjal. Ketika tubuh mengeluarkan banyak keringat namun tidak diimbangi dengan konsumsi air yang memadai, volume urine akan menurun drastis. Kondisi ini menyebabkan konsentrasi mineral pembentuk batu meningkat, sehingga risiko kristalisasi dan pembentukan batu ginjal pun semakin tinggi.

Temuan menarik lainnya yang diungkap Dr. Sarbjit adalah kecenderungan peningkatan kasus batu ginjal selama musim panas. Pada periode tersebut, masyarakat umumnya lebih sering terpapar suhu tinggi, melakukan perjalanan jarak jauh, serta mengonsumsi makanan ringan jalanan yang cenderung mengandung kadar garam tinggi. Kebiasaan minum teh atau kopi tanpa diimbangi asupan air putih yang cukup turut memperparah kondisi ini.

Selain itu, Dr. Sarbjit juga menyoroti kebiasaan menunda ke kamar mandi serta kecenderungan mengabaikan gejala awal saat buang air kecil sebagai faktor yang memperburuk risiko. Kedua kebiasaan tersebut sering kali tidak disadari namun memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan saluran kemih dalam jangka panjang.

Secara kumulatif, terdapat beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai oleh masyarakat. Di antaranya adalah kurangnya konsumsi air putih harian, pola makan yang didominasi makanan tinggi garam, asupan protein hewani yang berlebihan, serta riwayat infeksi saluran kemih (ISK). Faktor genetik berupa riwayat batu ginjal dalam keluarga juga turut meningkatkan kerentanan seseorang terhadap penyakit ini.

Kondisi kesehatan tertentu seperti obesitas dan sindrom metabolik juga disebut sebagai faktor risiko tambahan. Bagi mereka yang pernah mengalami batu ginjal sebelumnya, peluang kambuh cukup besar apabila tidak menerapkan perubahan gaya hidup yang tepat. Oleh karena itu, menjaga hidrasi tubuh secara konsisten, membatasi asupan garam dan protein hewani, serta tidak menunda buang air kecil menjadi langkah pencegahan yang sangat dianjurkan para ahli.