Pergeseran pola konsumsi masyarakat yang kian gemar berbelanja secara daring (online) memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha mikro di Kabupaten Pati. Momentum menjelang Hari Raya Lebaran dan tahun ajaran baru menjadi pemicu utama melonjaknya transaksi perdagangan digital di tingkat lokal.
Fenomena manis ini dirasakan langsung oleh Andik, seorang pelaku usaha ritel berbasis daring asal Desa Asempapan. Dengan mengandalkan skema penyerahan jalur langsung (dropship), ia memasarkan beragam produk konsumsi mulai dari pakaian muslim hingga perawatan kecantikan tanpa perlu menimbun stok barang dalam jumlah besar.
Andik mengungkapkan bahwa lonjakan pesanan sudah terasa signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Pada hari-hari biasa, ia mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp6 juta per bulan. Namun, memasuki periode puncak seperti momen Ramadan dan Lebaran, keuntungan bersihnya mampu menembus angka Rp10 juta. Produk fesyen Muslim, khususnya busana gamis dan hijab, menjadi komoditas paling diminati konsumen saat ini, menggeser produk perawatan tubuh yang biasanya mendominasi penjualan harian.
Menurut pengamatannya, mayoritas pembeli didominasi oleh kelompok usia produktif antara 18 hingga 40 tahun, yang didominasi oleh kalangan muda serta ibu rumah tangga yang fasih memanfaatkan teknologi digital. Kemudahan transaksi serta kepraktisan menjadi alasan utama masyarakat kini lebih memilih memesan barang melalui gawai dibandingkan harus bertransaksi secara konvensional di pasar tradisional.