Sektor tekstil dan garmen Vietnam kini berada di persimpangan jalan yang krusial. Setelah mencatatkan pertumbuhan ekspor sebesar 1,7% menjadi US$22,2 miliar pada paruh pertama 2026, industri ini harus menghadapi tantangan berat di sisa tahun berjalan, mulai dari pelemahan daya beli global hingga kenaikan biaya pengiriman kontainer sebesar 30 hingga 40 persen.

Asosiasi Tekstil dan Garmen Vietnam (VITAS) mencatat bahwa pasar internasional kini menuntut standar yang jauh lebih ketat. Ekonomi sirkular, pengurangan emisi karbon, serta transparansi rantai pasok bukan lagi menjadi nilai tambah, melainkan syarat mutlak untuk memenangkan pesanan global. Kondisi ini memberikan tekanan signifikan pada usaha kecil dan menengah yang harus berinvestasi besar pada kepatuhan standar lingkungan (ESG) sementara margin keuntungan kian tergerus.

Menghadapi tantangan tersebut, Ketua VITAS, Vu Duc Giang, menekankan pentingnya pergeseran strategi dari kuantitas menuju produktivitas dan nilai tambah. Sebagai langkah konkret, asosiasi telah membentuk empat komite khusus yang berfokus pada mode, hubungan bisnis internasional, keberlanjutan, serta inovasi teknologi digital untuk memperkuat ekosistem industri secara kolektif.

Kemandirian bahan baku domestik menjadi agenda mendesak, mengingat saat ini 60-70% komponen tekstil masih bergantung pada impor. Perusahaan besar, seperti May 10 Corporation dan Hung Yen Garment Corporation, kini tengah melakukan restrukturisasi lini produksi menjadi model cerdas dan fleksibel guna merespons tren pesanan yang lebih kompleks dengan tenggat waktu pengiriman yang lebih ketat.

Di sisi lain, manajemen arus kas dan efisiensi operasional menjadi perhatian utama bagi perusahaan garmen di tengah pengetatan likuiditas perbankan. Para pelaku industri kini diwajibkan untuk lebih proaktif dalam mendiversifikasi pasar dan mengoptimalkan persediaan guna menjaga stabilitas produksi, demi mencapai target ekspor sebesar US$49 miliar hingga akhir tahun 2026.