Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyoroti pentingnya penguatan kapasitas dan dukungan personel dalam operasi pemberantasan narkoba di wilayah dengan tingkat ancaman tinggi, seperti Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Langkah ini diambil menyusul insiden gugurnya tiga anggota Satresnarkoba Polres Katingan saat menjalankan tugas.

Komisioner Kompolnas, Choirul Anam, menyatakan bahwa tragedi tersebut menjadi momentum evaluasi kritis bagi Polri. Menurutnya, untuk meminimalisasi risiko bagi petugas di lapangan, perlu ada peningkatan daya dukung operasi, termasuk mempertimbangkan pelibatan satuan khusus seperti Brimob atau Densus 88 dalam penggerebekan yang dikategorikan berisiko tinggi.

Meski prosedur operasi standar (SOP) terkait penggunaan rompi antipeluru dan persenjataan telah tersedia, Anam menekankan bahwa tantangan geografis di wilayah pedalaman memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan wilayah perkotaan. Keterbatasan akses dan medan yang sulit menuntut persiapan yang jauh lebih matang untuk memastikan keselamatan personel.

Selain penambahan personel, Kompolnas menekankan krusialnya akurasi pemetaan wilayah dan intelijen sebelum operasi dilakukan. Penguasaan medan, identifikasi kekuatan pelaku, serta analisis potensi ancaman di lapangan menjadi kunci utama agar perlindungan terhadap anggota dapat berjalan maksimal dan insiden serupa tidak terulang di kemudian hari.