Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Yogyakarta berkomitmen meningkatkan mutu pendidikan dengan mendorong Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Upaya ini diwujudkan melalui agenda Sosialisasi Aplikasi Pembelajaran Digital bagi GPAI tingkat Sekolah Dasar (SD) yang digelar di Aula 1 Kantor Kemenag Kota Yogyakarta pada Selasa (11/8/2026).
Pengawas GPAI Kemenag Kota Yogyakarta, H. Ahmadi Sholihin, M.Pd.I., menegaskan bahwa pendidik masa kini tidak boleh menutup mata terhadap pesatnya kemajuan teknologi informasi. Ia mengingatkan para guru agar tidak mengalami fobia digital, melainkan memanfaatkan inovasi tersebut sebagai sarana pendukung pembelajaran, penyuluhan, dan edukasi bagi peserta didik.
Ahmadi menjelaskan bahwa tanggung jawab seorang guru, khususnya wali kelas, kini melampaui batas ruang kelas fisik. Guru dituntut untuk memantau sekaligus mengarahkan perkembangan siswa secara menyeluruh. Oleh karena itu, penguasaan aplikasi digital menjadi krusial dalam menjembatani komunikasi interaktif dan mengelola pembelajaran yang lebih terstruktur.
Langkah penguatan kapasitas digital ini juga selaras dengan komitmen Kemenag Kota Yogyakarta dalam mempertahankan predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). Pemanfaatan perangkat keras seperti laptop dan koneksi internet diharapkan mampu melahirkan model pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang lebih kreatif, dinamis, dan relevan dengan karakter generasi masa kini.
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, peserta dibekali materi teknis langsung dari dua praktisi komputer, Naufal Raffi Danu Tirta, S.Kom., dan Dwiki Kurniawan, S.Kom. Keduanya memandu para guru dalam mengoptimalkan pemanfaatan Google Chrome, aplikasi e-Afeksi, serta pengoperasian portal terpadu JogjaKemenagKotaJogja untuk mempermudah administrasi dan penyampaian materi ajar.
Melalui transformasi digital ini, Kemenag Kota Yogyakarta berharap metode pembelajaran PAI tidak lagi monoton. Integrasi teknologi di ruang kelas diharapkan mampu mengubah paradigma pengajaran menjadi lebih efisien, tanpa mengurangi esensi penanaman nilai-nilai moral dan spiritual kepada para siswa.