Sebuah studi neurosains terbaru memberikan secercah harapan dalam upaya memutus rantai kekambuhan pada penderita anorexia nervosa. Peneliti dari Federation of European Neuroscience Societies mengungkapkan bahwa hormon LEAP2 (liver-expressed antimicrobial peptide 2) memainkan peran krusial dalam mengatur perilaku makan pasien yang selama ini sulit dipulihkan.

Anorexia nervosa dikenal sebagai salah satu gangguan makan dengan tingkat risiko residivisme yang mengkhawatirkan. Statistik menunjukkan sekitar 40 persen pasien yang telah menerima perawatan medis harus kembali ke fasilitas kesehatan hanya dalam waktu enam bulan setelah dinyatakan keluar. Fenomena ini memicu urgensi bagi para ahli untuk menelaah kembali mekanisme metabolisme di balik gangguan tersebut.

Dipimpin oleh neurosaintis Virginie Tolle dari French National Institute of Health and Medicine (INSERM), penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Translational Psychiatry ini menyoroti interaksi antara hormon ghrelin dan LEAP2. Observasi terhadap 30 wanita pengidap anorexia menunjukkan bahwa kadar LEAP2 ditemukan 20 persen lebih tinggi saat pasien pertama kali dirawat dibandingkan saat berat badan mereka kembali normal pasca-rehabilitasi.

Fungsi utama LEAP2 adalah menekan sinyal lapar alami di dalam tubuh. Tingginya kadar hormon ini menyebabkan gangguan pada respons tubuh untuk mengonsumsi nutrisi, yang pada akhirnya memicu perilaku impulsif. Temuan ini didukung oleh uji coba pada subjek tikus yang menunjukkan konsistensi bahwa ketidakseimbangan hormonal ini bukan sekadar dampak sekunder, melainkan faktor penggerak siklus kambuh yang berbahaya.

Ke depan, identifikasi LEAP2 sebagai biomarker diharapkan dapat mengubah paradigma perawatan anorexia yang selama ini hanya mengandalkan terapi psikologis dan nutrisi. Jika dikembangkan lebih lanjut, tes darah untuk memantau kadar hormon ini dapat menjadi instrumen diagnostik dini guna memprediksi risiko relaps, serta membuka jalan bagi pengembangan obat-obatan terapeutik yang lebih efektif untuk menjaga stabilitas jangka panjang pasien.