Meta Platforms Inc. kini tengah berada di persimpangan jalan strategis. Raksasa teknologi pimpinan Mark Zuckerberg ini sedang mempertimbangkan opsi untuk menyewakan infrastruktur komputasi kecerdasan buatan (AI) miliknya kepada pihak ketiga, sebuah langkah yang akan menandai masuknya Meta ke dalam peta persaingan industri komputasi awan (cloud).
Selama ini, Meta dikenal sebagai satu-satunya raksasa teknologi (hyperscaler) di Amerika Serikat yang belum mengomersialkan layanan cloud untuk publik, meskipun belanja modal yang digelontorkan untuk membangun pusat data AI tidak kalah besar dibanding para kompetitornya. Keterbatasan pasokan infrastruktur AI global saat ini membuka celah pasar baru yang sangat potensial bagi perusahaan.
Kabar ketertarikan Meta ini diperkuat oleh laporan bahwa Anthropic, salah satu startup AI terkemuka, tengah melakukan penjajakan awal untuk menyewa daya komputasi dari Meta. Zuckerberg mengonfirmasi adanya minat tinggi dari pasar, dengan tawaran harga sewa yang jauh melampaui biaya operasional yang dikeluarkan perusahaan.
Langkah jajak pasar ini juga dipicu oleh tekanan kinerja keuangan. Laporan kuartal kedua menunjukkan arus kas bebas Meta merosot tajam hingga 90 persen dibanding tahun lalu akibat lonjakan belanja modal untuk infrastruktur AI. Meta bahkan merevisi proyeksi belanja modal tahun 2026 menjadi berkisar antara US$130 miliar hingga US$145 miliar.
Kendati demikian, Zuckerberg menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara mengejar keuntungan instan lewat penyewaan kapasitas dan mempertahankan daya komputasi untuk pengembangan teknologi internal Meta sendiri. Meta saat ini masih membutuhkan kapasitas komputasi skala raksasa demi menyokong model AI mereka, termasuk model teranyar Muse Spark 1.1.
Memasuki segmen pasar korporat (enterprise) diakui menjadi tantangan tersendiri bagi Meta yang belum memiliki pengalaman kuat di bidang tersebut. Namun, diversifikasi ini dinilai krusial demi mengurangi ketergantungan Meta pada sektor periklanan digital yang selama ini menyumbang hingga 98 persen dari total pendapatan perusahaan.