Pemerintah Kabupaten Buleleng berhasil mengukuhkan posisi puncak di Bali dalam hal jumlah partisipan Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) secara absolut. Berdasarkan data hingga akhir Agustus 2026, tercatat sebanyak 179.171 warga telah memanfaatkan layanan ini. Kendati demikian, tingginya populasi daerah membuat cakupan persentase Buleleng berada di peringkat keenam se-Bali, yakni 24,6 persen dari total 819.279 jiwa penduduk.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Sucipto, menegaskan bahwa ketimpangan antara angka absolut dan persentase tersebut menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama. Pihaknya bertekad mempercepat jangkauan layanan guna mengejar target nasional sebesar 46 persen pada akhir tahun 2026. Hal tersebut disampaikannya saat membuka acara Monitoring dan Evaluasi Program PKG di Lovina Haven, Selasa (8/9).
Menurut Sucipto, keberhasilan program kesehatan masyarakat tidak dapat hanya bergantung pada fasilitas kesehatan formal seperti puskesmas. Diperlukan sinergi lintas sektor yang melibatkan pemerintah kecamatan, desa, lembaga pendidikan, hingga komunitas lokal. Penguatan kolaborasi ini dinilai krusial untuk mengatasi kendala lapangan, seperti hambatan teknis penginputan data dan tantangan memotivasi warga agar bersedia mendatangi lokasi pemeriksaan.
Dukungan senada disampaikan Kepala Bidang Layanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dewa Made Puspa. Ia menilai besarnya jumlah penduduk Buleleng menjadi faktor utama yang mendongkrak angka pembagi persentase, berbeda dengan wilayah berpopulasi lebih sedikit seperti Kabupaten Klungkung. Untuk mengatasi ketertinggalan persentase tersebut, ia mendorong penerapan strategi proaktif "jemput bola" dengan menyasar langsung kelompok produktif, mulai dari petani, nelayan, akademisi, hingga berbagai komunitas masyarakat.
Selain memperluas jangkauan pemeriksaan, otoritas kesehatan juga menaruh perhatian besar pada efektivitas penanganan pascapemeriksaan. Setiap peserta dipastikan mendapat edukasi pola hidup sehat, rujukan kontrol lanjutan bagi yang membutuhkan, serta integrasi rekam medis digital melalui aplikasi SATUSEHAT. Langkah ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran mandiri masyarakat dalam menjaga kesehatan secara berkelanjutan.