Aksi penyelamatan korban banjir bandang di China tengah menjadi sorotan dunia berkat pemanfaatan berbagai teknologi mutakhir dalam operasi evakuasi. Bencana yang dipicu oleh Topan Maysak ini melanda Provinsi Hainan hingga Daerah Otonom Guangxi Zhuang, memicu curah hujan ekstrem yang memecahkan rekor historis dan merendam sejumlah wilayah perkotaan.

Dampak dari cuaca ekstrem tersebut sangat masif. Tercatat lebih dari 375.000 warga terdampak langsung, sedikitnya 130.000 jiwa harus dievakuasi ke tempat aman, dan puluhan korban jiwa dilaporkan meninggal dunia. Di tengah situasi darurat ini, tim penyelamat mengintegrasikan inovasi teknologi seperti jembatan lipat otomatis yang dapat dikonversi menjadi kapal penyelamat serta armada drone pemantau.

Salah satu skenario evakuasi tersulit terjadi di Kota Yunbiao, Hengzhou, ketika akses jalan darat lumpuh total dan mengisolasi lebih dari 15.000 warga. Menghadapi kendala tersebut, tim SAR menempuh perjalanan darat sejauh 1.700 kilometer selama 18 jam demi membawa unit drone angkut berat (heavy-lift drone) dengan bentang sayap tiga meter yang mampu membawa beban hingga 100 kilogram.

Selain digunakan untuk mengirimkan tali penyelamat guna mengevakuasi warga yang terjebak di atap bangunan, pesawat tanpa awak ini juga difungsikan untuk mendistribusikan logistik makanan dan obat-obatan. Pada malam hari, drone tersebut dilengkapi dengan kamera pemindai inframerah untuk melacak keberadaan korban, memantau pergerakan debit air, serta menyiarkan instruksi keselamatan dari udara.

Langkah krusial lainnya dilakukan oleh produsen eVTOL asal China, Vertaxi, yang menerjunkan drone khusus pembawa stasiun pemancar seluler bergerak di udara. Teknologi ini mampu memulihkan sinyal komunikasi dalam radius hingga 50 kilometer, memberikan harapan baru bagi warga di area terisolasi untuk dapat terhubung kembali dengan keluarga maupun meminta bantuan darurat.