Sektor teknologi nasional tengah menghadapi tekanan yang kian menantang seiring dengan eskalasi ketegangan geopolitik dan dinamika ekonomi global. Berbagai faktor makro, mulai dari lonjakan harga minyak hingga kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang diprediksi tetap tinggi, menciptakan tantangan signifikan bagi perusahaan teknologi yang sangat bergantung pada impor perangkat keras.

Analis dari Sucor Sekuritas, Dicky Susilo Adi, dalam risetnya menyoroti bahwa kenaikan harga chip memori akibat masifnya belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) global telah memicu kelangkaan pasokan. Kondisi ini diperparah dengan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang masih berada di level tinggi, sehingga menekan margin laba emiten teknologi lokal seperti PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) dan PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI).

Sucor Sekuritas memutuskan untuk melakukan revisi terhadap target harga saham kedua emiten tersebut. Target harga MTDL kini dipatok di angka Rp560, sementara MSTI disesuaikan menjadi Rp1.450 per unit. Pemangkasan proyeksi laba juga dilakukan sebesar 6-12 persen untuk periode 2026-2027, mengingat potensi perlambatan volume penjualan akibat mahalnya harga komponen serta kehati-hatian pelanggan dalam merealisasikan belanja modal.

Kendati dihadapkan pada volatilitas tersebut, sektor teknologi masih dinilai memiliki fundamental yang kokoh. Diversifikasi pendapatan yang dimiliki MTDL membuat perusahaan dianggap lebih defensif dalam menghadapi guncangan pasar. Sementara itu, MSTI dinilai tetap menarik bagi investor yang memburu potensi kenaikan harga saham dan imbal hasil dividen, meski dengan profil risiko yang sedikit lebih tinggi.

Secara keseluruhan, analis mempertahankan rekomendasi 'overweight' untuk sektor teknologi. Stabilitas neraca keuangan, tingkat utang yang rendah, serta permintaan berkelanjutan dari transformasi digital dan infrastruktur AI menjadi katalis positif yang menjaga daya tarik saham-saham tersebut di mata investor jangka panjang.