Fenomena anak usia sekolah dasar yang sangat lihai mengoperasikan gawai pintar kini menjadi pemandangan lumrah. Mulai dari menjelajahi media sosial, bermain gim daring, hingga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dapat mereka lakukan dalam hitungan detik. Namun, kecepatan adaptasi teknologi ini rupanya menyimpan paradoks besar dalam dunia pendidikan nasional.

Banyak pendidik mengeluhkan bahwa di balik kelincahan jemari anak-anak di layar sentuh, terdapat jurang kemampuan membaca yang mengkhawatirkan. Saat diminta membaca satu halaman buku atau menceritakan kembali isi bacaan sederhana secara lisan, tidak sedikit anak yang justru tampak kesulitan dan kebingungan menangkap makna teks.

Kondisi ini menuntut pemahaman ulang terhadap makna literasi yang sebenarnya. Literasi tidak sekadar perihal mengeja huruf atau membaca deretan kalimat secara cepat. Lebih jauh, esensi literasi mencakup kemampuan mencerna informasi secara mendalam, merangsang daya berpikir kritis, serta mengolah pengetahuan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Kesenjangan antara penguasaan teknologi dan kecakapan literasi tradisional ini menjadi tantangan serius bagi kurikulum sekolah masa kini. Para guru dan orang tua diharapkan tidak hanya bangga pada anak yang "melek gawai", melainkan juga terus membimbing mereka agar terbiasa mencintai buku dan memahami bacaan demi masa depan intelektual mereka.