Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan dinamika ekonomi global, mayoritas generasi muda Indonesia menyatakan kebutuhan mendesak akan pengalaman kerja praktis. Mereka menilai pemahaman teoritis di institusi pendidikan formal belum cukup membekali mereka untuk langsung terjun ke industri profesional.

Temuan ini tertuang dalam laporan riset bertajuk Shaping Tomorrow’s Workforce – Asia Pacific Youth Insights. Studi kolaboratif ini diinisiasi oleh Federal Express Corporation (FedEx) bersama organisasi nirlaba Junior Achievement (JA) Asia Pasifik, dengan melibatkan lebih dari 4.200 responden berusia 15 hingga 22 tahun dari sepuluh negara, termasuk 552 responden asal Indonesia.

Berdasarkan data survei tersebut, sebanyak 99 persen anak muda Indonesia berharap kurikulum pendidikan formal dapat mengintegrasikan lebih banyak praktik lapangan dan pemahaman langsung mengenai cara kerja industri. Angka tersebut melampaui rata-rata keinginan pemuda di kawasan Asia Pasifik yang berada di level 97 persen.

Menariknya, meskipun pemuda Indonesia dikenal memiliki optimisme dan kepercayaan diri yang tinggi, kesiapan mereka dalam menghadapi situasi kerja yang fleksibel masih perlu diasah kembali. Tercatat hanya 43 persen responden domestik yang merasa nyaman bekerja dalam lingkungan kerja yang kurang terstruktur tanpa rutinitas tetap, berada di bawah rata-rata regional yang mencapai 56 persen.

Managing Director FedEx Indonesia, Garrick Thompson, mengapresiasi potensi besar yang dimiliki generasi muda tanah air. Menurutnya, pemuda Indonesia memiliki kreativitas dan daya adaptasi yang luar biasa, namun sangat memerlukan jembatan berupa bimbingan praktis agar mampu bersaing. Kolaborasi ini juga menandai dua dekade berjalannya program kompetisi bisnis FedEx/JA International Trade Challenge yang telah membimbing puluhan ribu pelajar di Asia Pasifik sejak tahun 2007.