PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat adanya perlambatan signifikan dalam aktivitas penerbitan surat utang di sektor perusahaan pembiayaan atau multifinance sepanjang tahun 2026. Hingga periode Juni 2026, nilai penerbitan surat utang baru mencapai Rp 12,93 triliun, angka yang dinilai masih jauh dari total capaian tahun 2025 sebesar Rp 38,18 triliun.

Analis Pendapatan Tetap Pefindo, Ahmad Nasrudin, memproyeksikan jika tren semester pertama ini berlanjut, total nilai penerbitan tahun ini hanya akan menyentuh Rp 25,86 triliun. Angka tersebut mencerminkan koreksi penurunan hingga 32,3% dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya. Menurut Ahmad, kondisi ini dipicu oleh dua faktor utama yang saling bertolak belakang dalam industri multifinance.

Di satu sisi, perusahaan pembiayaan masih memerlukan pendanaan karena piutang pembiayaan tercatat tumbuh sebesar 2,08% secara tahunan (YoY) per April 2026. Namun, di sisi lain, kebijakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke level 5,75% telah memicu lonjakan biaya modal. Situasi ini memaksa perusahaan untuk bersikap jauh lebih selektif dalam menetapkan waktu, tenor, maupun volume penerbitan obligasi agar tetap efisien.

Faktor lain yang turut menahan akselerasi adalah ketidakteraturan permintaan pada sektor otomotif. Hingga Mei 2026, penjualan sepeda motor domestik hanya tumbuh tipis sebesar 0,74%, sementara segmen mobil mencatatkan pertumbuhan yang lebih stabil dengan kenaikan wholesales sebesar 12,8% YoY. Perbedaan kinerja di dua sektor utama ini menunjukkan bahwa ruang ekspansi masih terbuka, namun tidak merata di seluruh lini bisnis.

Selain kebutuhan ekspansi, industri multifinance kini tengah menghadapi beban kewajiban jatuh tempo obligasi yang cukup besar, yakni mencapai Rp 33,93 triliun pada tahun 2026. Puncak jatuh tempo terbesar diprediksi terjadi pada kuartal III-2026, dengan nilai mencapai Rp 13,68 triliun. Hal ini membuat agenda penerbitan surat utang pada paruh kedua tahun ini akan lebih difokuskan untuk kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing) alih-alih untuk pendanaan ekspansi baru.