PT Pegadaian (Persero) berhasil mencatatkan rekor kinerja keuangan yang impresif setelah berada di bawah pengelolaan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Sinergi strategis ini terbukti efektif dalam mengakselerasi transformasi bisnis serta memperkuat posisi perusahaan sebagai motor utama penggerak ekosistem emas nasional yang inklusif dan berdaya saing tinggi.

Hingga Mei 2026, total kelolaan emas Pegadaian tercatat mencapai 153,72 ton. Keberhasilan ini didorong oleh upaya konsisten perusahaan dalam meningkatkan literasi investasi emas, sehingga masyarakat kini memandang logam mulia sebagai aset produktif yang likuid. Langkah ini sekaligus mempertegas peran Pegadaian sebagai pionir Bank Emas Indonesia yang memiliki ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Berdasarkan laporan kinerja kuartal pertama tahun 2026, Pegadaian sukses mencetak laba bersih sebesar Rp4,38 triliun, angka yang melonjak 87,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini selaras dengan peningkatan total aset perusahaan yang kini menyentuh angka Rp183,8 triliun, didukung oleh kenaikan Outstanding Loan (OSL) gross yang mencapai Rp153,6 triliun.

Direktur Utama PT Pegadaian, Damar Latri Setiawan, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari kepercayaan nasabah serta dedikasi seluruh insan Pegadaian. Ia menambahkan bahwa perusahaan kini tengah merambah ekspansi internasional, termasuk menjalin kemitraan strategis dengan perbankan asal Jepang, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC), serta pembukaan kantor cabang perdana di Timor Leste.

Sebagai bagian dari komitmen mendukung hilirisasi komoditas pemerintah, Pegadaian terus melakukan inovasi produk keuangan berbasis emas, mulai dari layanan digital melalui aplikasi Tring! hingga rencana pengembangan Exchange-Traded Fund (ETF) emas. Langkah-langkah strategis ini diproyeksikan akan memperkokoh posisi Pegadaian sebagai entitas finansial yang berdaulat, tidak hanya di pasar domestik tetapi juga di kancah regional.