Universitas Hasanuddin (Unhas) berhasil membuktikan bahwa riset akademis dapat diintegrasikan secara nyata dengan kebutuhan industri. Melalui inovasi drone pertanian presisi, Unhas sukses mengamankan kontrak pengadaan senilai Rp11 miliar dari Kementerian Pertanian (Kementan) untuk memproduksi 50 unit armada udara nirawak perdana.

Setiap unit drone pertanian ini dihargai Rp225 juta. Nilai tersebut mencerminkan spesifikasi teknologi tingkat tinggi yang dirancang untuk skala industri agrikultur, bukan sekadar perangkat hobi. Langkah strategis Kementan ini dinilai sebagai investasi jangka panjang yang efisien guna menekan ketergantungan pada impor alat mesin pertanian dari luar negeri yang belum tentu cocok dengan lahan lokal.

Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menjelaskan bahwa teknologi ini telah melewati fase validasi lapangan yang ketat di berbagai karakteristik lahan di Indonesia. Menurutnya, inovasi ini tidak hanya dikembangkan untuk kebutuhan regional di Makassar, tetapi telah diuji dan siap digunakan untuk mendukung ketahanan pangan di seluruh wilayah Indonesia.

Keunggulan utama dari drone garapan Unhas ini terletak pada penerapan sistem pertanian presisi (precision farming). Dilengkapi dengan navigasi cerdas, drone ini mampu melakukan penaburan benih secara otomatis dan penyemprotan dengan dosis yang akurat sesuai kebutuhan lahan. Teknologi ini membantu menghemat biaya operasional petani dengan mengurangi penggunaan bahan kimia secara berlebihan.

Keberhasilan proyek ini tidak lepas dari implementasi model kolaborasi "Triple Helix" yang solid. Sinergi ini melibatkan Unhas sebagai pusat riset dan inovasi, Kementan sebagai penyedia kebijakan dan pasar, serta PT EnerSky Innovation sebagai mitra industri manufaktur massal. Pola kerja sama terintegrasi ini memastikan bahwa produk inovasi kampus tidak mandek di laboratorium dan dapat diserap pasar secara optimal.

Meski peluncuran resminya dijadwalkan pada Juli 2026, pihak Unhas sudah mulai menjajaki peluang ekspor ke beberapa negara untuk tahun depan. Berbekal keunggulan adaptabilitas tinggi pada lahan tropis—seperti area berbukit dan lahan basah yang menantang—drone lokal ini optimistis mampu bersaing dengan produsen global di pasar agrikultur internasional.