Kebiasaan terjaga hingga larut malam kini menjadi fenomena umum di kalangan remaja akibat tingginya durasi penggunaan gawai dan aktivitas media sosial. Padahal, kurang tidur bukan sekadar memicu rasa kantuk saat beraktivitas di sekolah, melainkan juga menyimpan ancaman serius bagi kesehatan metabolik, termasuk meningkatkan risiko obesitas sejak usia muda.

Sebuah penelitian terbaru yang mengamati 165 remaja dengan kondisi obesitas di kawasan Surabaya dan Sidoarjo menyingkap korelasi kuat antara durasi tidur dengan metabolisme tubuh. Remaja yang beristirahat kurang dari delapan jam per hari terbukti memiliki indeks massa tubuh (IMT), ukuran lingkar pinggul, serta kadar insulin yang signifikan lebih tinggi dibandingkan rekan seusia mereka yang tidur cukup sesuai rekomendasi medis.

Secara biologis, kekurangan waktu istirahat mengacaukan keseimbangan hormon pengatur nafsu makan, yaitu ghrelin dan leptin. Kondisi ini memicu lonjakan rasa lapar, terutama keinginan mengonsumsi makanan padat kalori dan gula, yang diperparah dengan keengganan beraktivitas fisik akibat tubuh yang kelelahan. Lebih lanjut, peningkatan hormon insulin yang tidak terkendali akibat kurang tidur berisiko memicu resistensi insulin, fase awal yang dapat berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2.

Untuk mengatasi ancaman kesehatan ini, intervensi pola hidup sehat harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada diet atau olahraga. Orang tua diimbau menerapkan disiplin waktu tidur yang konsisten, membatasi penggunaan gawai minimal satu jam sebelum tidur, serta mendorong aktivitas fisik di siang hari demi kualitas tidur remaja yang lebih baik.