Upaya Vietnam untuk merambah sektor tenaga nuklir kini memasuki babak baru. Para pakar menekankan bahwa ambisi menguasai teknologi nuklir tidak harus diartikan sebagai keharusan memproduksi seluruh komponen pembangkit secara mandiri. Sebaliknya, fokus utama harus diarahkan pada kemampuan mengadopsi transfer teknologi, penguasaan proses operasional, serta pemenuhan standar keselamatan global yang ketat.

Tran Chi Thanh, Direktur Institut Energi Atom Vietnam, menegaskan bahwa pengembangan tenaga nuklir merupakan proyek jangka panjang yang membutuhkan akumulasi pengetahuan mendalam. Alih-alih terburu-buru melakukan lokalisasi, Vietnam disarankan untuk bertahap membangun kapabilitas internal. Pemilihan teknologi pun menjadi krusial; meskipun reaktor modular kecil (SMR) tengah menjadi tren, teknologi reaktor Generasi III+ dinilai lebih matang dan memiliki rekam jejak operasional yang teruji untuk kebutuhan nasional.

Selain aspek teknologi, penguatan sistem regulasi dianggap sebagai fondasi keamanan yang tak terelakkan. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa kemandirian badan pengatur nuklir sangat vital untuk melakukan pengawasan independen dan pemberian lisensi berdasarkan standar Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Proses evaluasi yang mencakup survei lokasi hingga analisis dampak lingkungan menjadi prasyarat mutlak yang tidak bisa dikompromikan.

Lebih jauh, kehadiran industri nuklir dipandang sebagai katalisator bagi dunia usaha domestik untuk naik kelas. Sektor-sektor seperti teknik mesin, struktur baja, hingga otomatisasi memiliki peluang besar untuk terlibat dalam rantai pasokan global, selama standar kualitas internasional mampu dipenuhi. Keberhasilan dalam sektor ini nantinya tidak hanya menjamin ketahanan energi, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kemajuan teknologi nasional di masa depan.