Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mengidentifikasi bahwa ketakutan terhadap stigma sosial dan diskriminasi di masyarakat masih menjadi hambatan terbesar dalam upaya penanggulangan HIV di wilayah tersebut. Hambatan psikososial ini membuat masyarakat cenderung enggan melakukan pemeriksaan dini, padahal deteksi sejak awal sangat penting untuk mencegah perkembangan virus ke fase yang lebih parah.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih, mengamini fenomena ini. Menurutnya, respons masyarakat saat diajak melakukan skrining HIV jauh berbeda dengan ketika ditawari pemeriksaan penyakit umum seperti diabetes atau kolesterol. Stigma negatif yang terlanjur melekat kerap kali membuat orang mengurungkan niat untuk mengetahui status kesehatan mereka secara sukarela.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat hingga periode Mei tahun berjalan, pemerintah daerah telah melakukan skrining HIV kepada sekitar 19 ribu warga, yang setara dengan 45 persen dari total target tahunan. Dari upaya deteksi tersebut, ditemukan sekitar 180 kasus positif HIV, dengan 140 orang di antaranya telah mendapatkan pendampingan medis serta menjalani pengobatan aktif.

Ismid juga meluruskan miskonsepsi yang sering terjadi di masyarakat mengenai perbedaan antara HIV dan AIDS. Ia menjelaskan bahwa HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan dapat dikendalikan dengan penanganan medis yang tepat. Sementara itu, AIDS merupakan fase lanjut yang terjadi jika infeksi HIV tidak segera ditangani secara medis sejak dini.

Guna mendorong masyarakat agar tidak takut memeriksakan diri, Dinkes Samarinda menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan HIV ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah secara gratis. Selain itu, kerahasiaan identitas dan rekam medis pasien dijamin aman secara ketat. Masyarakat diimbau untuk tidak menjauhi para penyintas, melainkan bersama-sama mendukung gerakan deteksi dini demi menekan angka penularan.