Keadaan kemanusiaan di Jalur Gaza semakin mengkhawatirkan seiring runtuhnya sistem layanan kesehatan akibat agresi militer yang terus berlanjut. Berdasarkan laporan terbaru, sekitar 1,6 juta warga sipil kini dibayangi ancaman kelaparan akut dan malnutrisi. Kondisi ini diperparah dengan temuan bahwa sedikitnya 74.000 anak mengalami kekurangan gizi, sementara sekitar 25.000 ibu hamil berisiko tinggi menderita anemia berat.

Direktur Kompleks Medis Al-Shifa, Dr. Mohammad Abu Salmiya, mengungkapkan bahwa pusat-pusat kesehatan di Gaza terus dibanjiri pasien baru setiap harinya. Namun, lonjakan ini tidak diimbangi dengan ketersediaan logistik medis yang memadai. Para tenaga medis kini terpaksa bekerja di bawah tekanan ekstrem karena menipisnya stok obat-obatan esensial dan alat kesehatan vital.

Kelumpuhan operasional juga melanda sektor transportasi medis, di mana sekitar 70 persen armada ambulans tidak lagi berfungsi akibat kelangkaan suku cadang, ban, dan pelumas. Dampak dari krisis logistik ini sangat dirasakan oleh kelompok pasien rentan; sekitar 4.000 penderita kanker terpaksa menunda kemoterapi mereka, sementara pasien diabetes anak dan pasien cuci darah kesulitan mendapatkan obat penunjang hidup.

Di sektor perawatan gagal ginjal, situasi tidak kalah mencekam. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa separuh dari mesin dialisis yang ada kini tidak dapat digunakan akibat ketiadaan natrium bikarbonat. Jumlah rumah sakit yang menyediakan layanan cuci darah menyusut drastis dari tujuh menjadi hanya empat unit. Sejak eskalasi konflik dimulai, tercatat lebih dari 470 pasien gagal ginjal meninggal dunia karena terhentinya perawatan rutin.

Selain krisis penyakit kronis, lebih dari 43.000 warga Gaza mengalami luka berat akibat perang, dengan ribuan di antaranya terpaksa menjalani amputasi dan kini menanti bantuan alat prostetik. Di luar cedera fisik, masyarakat Gaza juga menghadapi trauma psikologis yang mendalam, ditandai dengan tingginya kasus depresi, kecemasan akut, serta gangguan tidur massal. Guna mencegah bencana kemanusiaan yang lebih masif, para pekerja medis mendesak komunitas internasional untuk segera membuka jalur bantuan kemanusiaan dan suplai obat-obatan ke wilayah tersebut.