Sektor kesehatan di Jalur Gaza saat ini tengah menghadapi ancaman keruntuhan total. Otoritas kesehatan setempat melaporkan bahwa kelangkaan pasokan medis dan peralatan krusial telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan, sehingga menghambat penanganan medis bagi ratusan ribu warga yang terdampak konflik.

Direktur Organisasi Bantuan Medis (Medical Relief Organization), Mohammed Abu Afash, mengungkapkan bahwa sistem distribusi bantuan belum pulih sejak masa gencatan senjata diberlakukan. Kondisi ini memicu defisit pasokan alat uji medis hingga mencapai angka 87 persen. Dampaknya, lebih dari 24.000 pasien dengan penyakit kronis tidak mendapatkan perawatan yang diperlukan, sementara ribuan penderita hipertensi mulai menunjukkan komplikasi kesehatan akibat putusnya rantai pengobatan.

Di sisi lain, mobilitas layanan kedaruratan juga mengalami kelumpuhan hebat. Otoritas kesehatan mencatat bahwa 70 persen armada ambulans tidak lagi dapat beroperasi. Kerusakan tersebut dipicu oleh serangan langsung, ketiadaan suku cadang, hingga larangan impor ban yang menghambat proses perbaikan kendaraan operasional di lapangan.

Para ahli kesehatan juga menaruh kekhawatiran besar terhadap risiko penyebaran penyakit menular yang dipicu oleh suhu musim panas ekstrem serta padatnya kondisi di kamp-kamp pengungsian. Situasi kemanusiaan yang memburuk ini memicu kecaman keras dari berbagai pihak, yang menyoroti urgensi pemulihan akses logistik medis demi mencegah bencana kesehatan yang lebih luas bagi warga Gaza.