Langkah nyata dalam mendukung transisi energi hijau di sektor industri strategis nasional kembali ditunjukkan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). PT Bio Farma (Persero) resmi menjalin kemitraan dengan PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) untuk memanfaatkan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai sumber energi utama dalam operasional fasilitas produksinya di Bandung, Jawa Barat. Langkah ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Bio Farma yang baru pertama kali menggunakan gas alam terkompresi ini dalam proses produksinya.

Kemitraan strategis ini sejalan dengan komitmen Bio Farma untuk menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Direktur Operasi PT Bio Farma, Iin Susanti, menjelaskan bahwa beralih ke bahan bakar yang lebih rendah emisi merupakan langkah konkret perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional pabrik vaksin terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Dalam kerja sama ini, PGN Gagas melalui layanan Gaslink berkomitmen memasok CNG sekitar 300 ribu meter kubik setiap bulannya. Pemanfaatan energi bersih ini diproyeksikan mampu memangkas biaya operasional produksi Bio Farma hingga mencapai 40 persen dibandingkan dengan penggunaan sumber energi sebelumnya. Angka efisiensi yang signifikan ini diharapkan dapat memperkuat daya saing produk kesehatan Indonesia di pasar global.

Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menekankan pentingnya jaminan pasokan energi yang andal bagi sektor-sektor krusial seperti industri kesehatan. Gaslink hadir sebagai solusi penyaluran gas bumi di luar jaringan pipa bagi pelanggan industri dan komersial. Kemitraan dengan Bio Farma ini kian memperluas jaringan pelanggan Gaslink yang hingga pertengahan tahun 2026 telah melayani lebih dari 600 pelanggan di seluruh Indonesia.

Kolaborasi antara kedua BUMN ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi sektor industri lain untuk segera beralih ke energi ramah lingkungan. Dengan pasokan energi yang lebih stabil dan bersih, keberlangsungan produksi vaksin serta produk bioteknologi Bio Farma yang telah didistribusikan ke lebih dari 150 negara dipastikan akan berjalan lebih optimal, demi memperkuat ketahanan kesehatan nasional.